Rabu, 24 Juni 2009

Posting Pertama, Cerpen Sayya

Sahabat Mia

Upacara Ilmu Hitam dilaksanakan malam itu juga. Mantra-mantra kegelapan terucap dari bibir Pulla, sang dukun hitam desa itu. Para gadis menari mengelilingi Api Peauy yang berkobar di tengah upacara tersebut. Para pria berbaju motif kulit macan menabuh alat musik aneh yang terbuat dari kulit dan tulang gajah purba. Pulla pun bangkit dari tempat duduknya dan ikut menari sambil mengetuk-ngetukkan tongkat berujung tengkorak manusia. Api Peauy yang berkobar merah keunguan kini berubah menjadi hijau menyala. Pulla menyanyikan semacam lagu kematian yang mengerikan dan membuat bulu kuduk berdiri. Tak henti-hentinya Pulla menyanyikan lagu itu. Tiba-tiba riuh upacara tersebut terhenti–

“Mia!! Kamu gimana sih??” teriak Lulu pada Mia yang sedang asyik mengunyah potato chips dan membaca novel kesukaannya untuk yang kelima kalinya bulan ini. “Dapa?” kata Mia tak jelas, mulutnya penuh potato chips. “Kamu bodoh banget sih! Masa Neo yang cakep kaya gitu kamu tolak?” teriak Lulu tak keruan. Mia menelan potato chips yang ada di mulutnya lalu meraih gelas berisi air putih di meja yang penuh dengan majalah-majalah artis Hollywood. Setelah yakin tak ada chips yang tersisa di mulutnya, Mia mulai berbicara. “Kenapa kamu yang sewot? Yang ditembak ‘kan aku,” kata Mia santai seraya meregangkan otot. “Emang sih, tapi Mi, ini Neo. Neo gitu lho, cowok yang diincer Gina dari dulu,” Lulu menekankan kata Gina. “Terus?” kata Mia tak peduli. Mata Lulu melebar. “Neo, Mi. Cowok idaman semua cewek di sekolah kita. Kamu bisa ikutan jadi famous lho, Mi. Neo gitu lho,” katanya sambil mungkin berangan-angan bisa jadi cewek Neo. “Ah, emang aku pikirin? Toh nggak ada untung en’ ruginya buat aku. Paling cuma di musuhi cewek-cewek centil pemuja si Neo, kalau aku terima dia,” jawab Mia kalem. “Ada untungnya juga buat kamu, musuh bebuyutan kita, Gina, bakal marah semarah-marahnya karena dia nggak bisa ngedapetin Neo. En’ kamu bisa jadi famous karena kamu ngedapetin Neo. Gina bakal mati kutu, Mi. Kamu benci ama Gina ‘kan?” kata Lulu. “Iya sih, tapi aku nggak bakal mau nerima Neo gimana pun caranya,” Mia beranjak meninggalkan Lulu. “Mia! Tunggu dong, jangan marah gitu, aku ‘kan cuma mau–” ucapan Lulu terputus saat Mia mengisyaratkan untuk diam. “Aku tau, lagian nggak usah diungkit-ungkit lagi kenapa? Aku pusing ngedengernya,” ucap Mia.

Pagi itu, Mia duduk di mejanya sambil membaca novel. Saking seriusnya, Mia tidak mendengar Gina duduk di sebelahnya. “Apa berita yang aku denger itu bener? Kamu ditembak Neo?” kata Gina tanpa memandang Mia yang masih asyik dengan novelnya. “Iya, aku nggak mau muna. Emang kenapa?” Mia menjawab tanpa ekspresi. “Kamu.. Kamu nggak nerima dia ‘kan?” suara Gina agak bergetar karena marah. “Kenapa? Kamu takut jadi nggak terkenal lagi karena gagal dapetin Neo?” tanya Mia sinis. “Jawab pertanyaan gue!” bentak Gina. “Harus ya?” kata Mia. “Lo tu..” “Ye!” sambar Mia menirukan lagu /Rif. Logat Jakarta Gina keluar lagi. Maklum, dia memang pindahan dari Jakarta. Tapi jangan bayangkan rupa Gina seperti artis-artis Jakarta ya, soalnya beda jauh! Gina hanya disegani karena kaya. Mia tergelak melihat Gina yang sudah amat dongkol. Gina tak bisa berkata-kata. “Pergi sana. Balik ke anak-anak buahmu yang pecundang,” Mia meninggalkan Gina yang penuh amarah.

Pelajaran pertama hari itu adalah Bahasa Inggris, pelajaran yang paling disukai oleh Mia, begitu juga Lulu. Tapi sayangnya, guru Bahasa Inggris kelas X ini jauh beda dengan guru Bahasa Inggris Mia waktu masih SMP dulu. Guru SMU ini tidak bisa membawakan pelajaran dengan baik. Nggak menarik, begitu pikir Mia. “Good morning, class,” sapa Pak Beno. “Good morning, Sir,” jawab para murid. “Hari ini, seperti yang sudah saya beri tahukan kepada kalian, kita akan mengadakan exam untuk bisa mengikuti olimpiade story telling antar sekolah,” jelas Pak Beno. Mia mengangkat tangan. “Ya, Mia?” kata Pak Beno sambil mengernyitkan dahi. “Kalau misalnya menang dalam olimpiade itu, apa nanti akan maju ke tingkat nasional, Sir?” tanya Mia serius. “Oh, of course, Mia. Nanti juara di nasional juga akan maju ke tingkat internasional,” jawab pak Beno. “Oh, begitu. Thank you, Sir,” kata Mia. “Huu, mentang-mentang pinter Bahasa Inggris,” ejek Radit. “Eh, apa kamu bi–,” kata-kata Mia terputus oleh Pak Beno. “Maka dari itu, Radit, kamu harus bisa mengalahkan Mia. Masa’ cowok kalah sama cewek,” goda Pak Beno. “Eh, iya, Sir,” Radit tergagap, wajahnya bersemu merah karena malu. Rasain tuh, batin Mia. “Weeeek,” Mia menjulurkan lidah pada Radit. Radit hanya bisa melotot pada Mia. Terdengar gelak tawa para siswa kelas Xc yang paling gokil itu karena melihat tingkah Mia dan Radit. “Sudah, sudah. Ayo kita mulai examnya,” Pak Beno menengahi.

Bel istirahat berbunyi, Mia yang hampir mati bosan pun terselamatkan dengan bunyi bel tersebut. “Inikah surga?” Mia yang otaknya sudah butek karena Kimia, jadi seperti orang gila waktu keluar kelas. Hatinya berflower-flower (baca: berbunga-bunga) karena saking bahagianya bisa keluar dari kelas yang layaknya neraka itu. “Sadar, Mi. Ini bukan surga, ini JAMBAN alias tempat boker, dan sekarang kamu sedang menginjak salah satu dari korban kekejaman sang jamban,” kata Lulu gokil. “Hah??” Mia laangsung melompat kaget dan buru-buru melihat ke arah sepatunya. “Mana?!” Mia panik. “Hehehe...,” Lulu langsung nyengir lebar waktu melihat Mia kebakaran bulu kaki (masa’ jenggot? ‘kan nggak punya..;p). Mia sadar telah dibohongi, dia memasang tampang serigala yang sudah nggak makan selama 7 hari 7 malam. Lulu langsung ngacir dari tempat itu. “Rese!!” teriak Mia pada Lulu yang masih dalam jarak dengar. Lulu menengok ke belakang sambil menjulurkan lidah lalu kembali meneruskan langkah seribunya.

Waktu pulang sekolah pun tiba, Mia langsung menuju tempat parkir sekolah dan mengambil sepeda birunya. Rumah Mia memang dekat dengan sekolahnya, maka dari itu Mia lebih memilih bersepeda ke sekolah. Biar sehat, katanya. Mia mengayuh sepedanya lumayan kencang karena sudah tidak sabar ingin sampai di rumah. “Mia!” terdengar suara cowok memanggil Mia dari jauh. Mia menengok ke belakang penasaran. Mia langsung menge-rem sepedanya. Mata Mia membelalak melihat pemilik suara tersebut. “Andra? Itu beneran kamu?” Mia mengucek matanya tak percaya. Cowok yang dipanggil Andra itu langsung berlari mendekat. “Iya, ini aku. Masih inget ‘kan?” tanyanya. “Banget. Eh, gimana kalau kita ngobrol sambil duduk? Yuk,” ajak Mia. “Oke, sambil makan ya? Tuh ada warung, aku yang traktir deh. kamu pasti laper ‘kan?” Andra menunjuk sebuah warung mie ayam. “Beneran kamu yang traktir?” goda Mia. “Ya iyalah! Cowok ‘kan harus modal,” Andra nyengir kuda. “Oke, aku terima traktiran kamu, aku emang lagi laper berat nih.” Mia dan Andra melangkah ke warung tersebut. “Mbak, mie ayamnya dua ya,” Andra memesan makanan. “Jadi..?” Mia memulai percakapan. “Jadi kamu minumnya apa?” tanya Andra. Mia langsung cemberut, dongkol. “Es teh aja,” jawab Mia masam. “Mbak, minumnya es teh dua,” kata Andra kepada sang penjual. “So..?” sekarang ganti Andra yang bertanya. “So itu daun melinjo dalam bahasa Jawa ‘kan?” Mia balas dendam sambil tersenyum puas dalam hati. “Bukan, maksudku aku mau tanya. Boleh ‘kan aku tanya sesuatu sama kamu?” tanya Andra. “Itu kamu udah nanya. Jawabannya boleh, tapi kamu boleh tanya lagi kok,” kata Mia jenaka, dendamnya sudah menguap entah ke mana. “Gimana kabar kamu?” tanya Andra. “Nggak pernah sebaik ini,” jawab Mia sambil tersenyum manis. “Kamu sendiri?” Mia balik bertanya. “Aku juga baik kok,” jawab Andra balas tersenyum.

Andra dan Mia mengobrol tak ada habisnya siang itu. Andra adalah teman, malah mungkin bisa disebut sahabat Mia waktu SMP. Setelah lulus, mereka tidak pernah mengontak satu sama lain karena sudah berjanji akan fokus pada sekolah dulu. Lagipula, Andra dan Mia berjauhan karena Mia memilih tinggal di tengah Kota Yogya, sedang Andra masih tinggal di desanya. Jadi, Andra dan Mia susah bertemu. Waktu SMP, Andra adalah teman yang paling berkesan bagi Mia. Mia selalu curhat apa saja pada Andra. Andra pun begitu. Mereka juga kompak dan cocok satu sama lain. Hal favorit Andra dan Mia adalah berbaring di lapangan dekat sekolah mereka sambil memandang birunya langit. Kalau sudah begitu, mereka bakal lupa waktu. Mereka saling curhat tentang sekolah lah, keluarga lah, cinta lah, pokoknya apa saja. Banyak teman sekelas mereka yang mengira kalau mereka berdua pacaran. Hal itu langsung disangkal oleh pihak yang bersangkutan. Terang saja, mereka berdua ‘kan tidak pacaran.

“Ya ampun, udah jam berapa nih?” Mia bertanya pada Andra. Andra melirik arlojinya. “Jam 3 kurang dikit,” kata Andra. “Udah hampir dua jam kita di sini. Pulang yuk, ntar aku dicariin Ibuku lagi,” kata Mia seraya menyiapkan tasnya. “Oke, ayo,” Andra membayar makanan lalu menggandeng Mia keluar dari warung tersebut. Wajah Mia merah, malu digandeng seperti itu oleh Andra. “Kamu kenapa. Mi?” Andra heran melihat Mia gugup seperti itu. “Nggak, aku nggak apa-apa kok,” jawab Mia. Mia melepaskan tangan Andra lalu mengambil sepedanya. “Kamu bisa pulang sendiri kan? Aku ‘kan nggak mungkin ngeboncengin kamu sampai rumah,” Mia terlihat khawatir. “Mia, Mia. Aku tuh udah gede, kamu nggak usah khawatir kayak gitu,” Andra tertawa. “Syukur deh, makasih ya buat mie ayamnya. Sekalian, aku boleh minta nomor kamu nggak?” tanya Mia, mengeluarkan handphonenya. “Boleh,” Andra mendikte nomornya. “Aku minta nomor kamu dong,” pinta Andra. Mia ganti mendikte nomornya.

Mia sedang mengerjakan PR Biologinya saat pesan Andra masuk.

Andra

10/01/09

Mlm, lg ngapain nih?

Entah mengapa hati Mia berbunga-bunga melihat pesan Andra. Mia tersenyum sendiri. “Ih, ada orang gila baru di rumah kita,” Mas Dewa memandang Mia jijik. “Apaan sih??” Mia melemparkan bantal berbentuk hati padanya dan kena tepat di perutnya. “Salah siapa ngejek aku,” Mia terbahak melihat Mas Dewa meringis sambil mengusap perutnya. “Ambil nih!” Mas Dewa memungut bantal itu dan melemparnya ke tempat tidur Mia. Mia teringat kembali pada pesan Andra. Dia mengetik balasannya.

To: Andra

Lg blz sms km n’ lg ngerjain pe-er biologi. Klo km? Pzt lg mikirin aq...

Mia menekuni lagi buku Biologinya. Lima menit kemudian, ada pesan masuk lagi.

Andra

10/01/09

Iy, kok tw? Km brbkat jd peramal tuh.. Btw, bsk ad acr g? Klo g ad, km mo g aq ajk jln2? Please... Mo y? ^^

Mia senang sekali diajak jalan-jalan Andra. Mia segera mengirim balasannya.

To: Andra

Aq seh mo aj, coz bsk libur krn ad rpat guru, tp km jmput aq y? Jm brp qt mo k jln2?

Malam itu Mia tidur nyenyak sekali. Tak sabar menunggu esok hari.

“Mia, bangun. Udah pagi, mau sekolah enggak?” kata Mas Dewa. “Apaan sih? Orang hari ini aku libur kok,” kata Mia malas. “Ah, yang bener? Jangan bohong deh!” Mas Dewa tak percaya. “Bener kok,” Mia bangun dan duduk. “Ya udah, tapi sekarang kamu mandi dulu sana! Bau!” Mas Dewa menutup hidungnya dengan mimik lucu. “Dasar, emangnya Mas Dewa nggak bau apa? Weeek,” Mia menjulurkan lidah, tidak terima diejek bau. Mas Dewa mengendus badannya. “Bener juga kamu, mas juga bau!” Mas Dewa dan Mia terbahak.

Setelah mandi, Mia menuju ke dapur untuk sarapan. “Masak apa nih, Bu? Baunya ampe kecium dari kamarku,” Mia nyengir pada ibunya yang sedang sibuk berjibaku di dapur. Maklum, namanya juga ibu rumah tangga...

“Lagi masak ca kangkung sama telor ceplok, suka enggak?” tanya Ibu. “Suka, tapi Mia mau keluar beli donat kesukaan Mia dulu boleh ‘kan?” rayu Mia. “Boleh, tapi pakai uang sendiri ya? Sekalian Ibu nitip beli bubur buat kakakmu Tita, katanya lagi sakit flu,” Ibu tak mengalihkan perhatian dari kesibukannya. “Sakit..? Tumben amat tuh anak sakit,” Mia bergumam sendiri sambil berjalan menuju kamarnya untuk mengambil uang.

“Bu, bubur Mbak Tita belinya pakai uang Ibu ‘kan? Uang Mia nggak cukup nih!” teriak Mia dari kamar. “Iya, ntar pake uang Ibu!” Ibu berteriak balik tidak kalah keras. “Oke!” sahut Mia.

Lima menit kemudian Mia sudah berada di jalan menuju warung donat favoritnya yang paling banter lima belas menit dari rumahnya jika ditempuh dengan naik sepeda. Mia mengayuh sepedanya dengan semangat. Dia mengangguk dan tersenyum kepada setiap orang yamg dikenalnya. Sesampainya Mia di warung donat yang buka sejak pagi itu, dia memarkir sepedanya lalu masuk ke dalam. Mia memang suka sekali makan donat, banyak yang mengejeknya badannya bisa jadi bulat seperti donat. Mia hanya menanggapi dengan tersenyum. Tidak penting, toh yang makan donat aku, bukan mereka, pikir Mia.

Pulangnya, Mia mampir ke lapangan yang juga dekat rumah. Dia membeli bubur langganannya untuk Mbak Tita. Lapangan itu sering dipakai main bola oleh anak-anak tettangga Mia. “Mbak, buburnya satu ya,” Mia memesan bubur sambil menarik kursi untuk duduk. Handphone Mia bergetar, ada pesan masuk.

Andra

11/01/09

Aq bliin bu2r jg dong... ^^

Mia kaget lalu melihat sekelilingnya. Dia tak menemukan sosok Andra yang dicarinya. Mia kemudian membalas pesan Andra,

To: Andra

Km tu d mna? Kok aq g ngeliat km?

Bubur pesanan Mia sudah jadi, Mia membayar lalu melangkah keluar. “Hei,” sapa seseorang. Mia terlonjak kaget. “Andra! Bikin aku kena heart attack aja deh!” seru Mia padanya. “Apa iya? Hehehe..,” cowok itu malah nyengir. “Dasar. Eh, tapi kamu kenapa sih, kok pucet gitu?” Mia baru sadar kalau Andra kelihatan pucat. “Ah, nggak apa-apa. Mungkin kecapekan aja,” Andra menjawab tanpa menatap Mia. “Kalau gitu, acara kita batalin aja, ntar kamu malah pingsan di jalan lagi,” ucap Mia, tersenyum manis. “Ah, jangan. Aku nggak apa-apa kok, beneran,” Andra terus menyangkal. Mia curiga pada sikap Andra, tetapi Mia diam saja, tak menjawab perkataan Andra.

Mia mengobrol sebentar dengan Andra lalu meminta alamat Andra di Yogya. Ternyata, Andra sekarang tinggal di rumah pamannya. Perumahan Merapi View No. 5e. Tidak jauh dari rumah Mia. Pantes dia bisa nyampe sini pagi-pagi gini, pikir Mia. “Udah dulu ya, buburnya jadi nggak panas nanti,” Mia berpamitan pada Andra. “Ya udah, sana pulang. Aku mau jalan-jalan, menikmati hidup,” Andra tersenyum. Nih anak aneh, batin Mia seraya melambai pada Andra. Andra kembali tersenyum manis sekali.

“Mbak, ini buburnya. Aku taruh di meja ya?” seru Mia dari dapur. “Kok lama banget sih?” Mbak Tita yang baru keluar dari kamar mandi sewot melihat Mia. “Udah untung aku beliin, malah sewot kayak gitu. Aku makan nih,” ancam Mia seraya mengambil kembali bubur itu. “Jangan. Thank you deh kalau gitu,” kata Mbak Tita terpaksa. “Nah, gitu dong,” Mia tersenyum puas.

Sore itu Mia menanti Andra di depan rumahnya. Sudah hampir satu jam Mia mondar-mandir di teras rumahnya, Andra tak kunjung datang. Sampai-sampai para cowok tetangga Mia melontarkan ejekan yang bikin kuping panas. “Mana nih si Andra? Katanya mau jemput, kok nggak dateng-dateng ya?” Mia bergumam sendiri, terduduk di kursi. “Aku telepon aja ah,” Mia mengeluarkan handphone dari sakunya. Mia menelepon nomor Andra. Tak didengarnya nada tunggu. Mia jadi khawatir. Jangan-jangan Andra kenapa-napa lagi, pikir Mia. Mia memutuskan untuk pergi ke rumah paman Andra naik angkot.

Sesampainya di sana, tak ada tanda-tanda ada seseorang di rumah itu. Mia mengetuk pintu namun tak ada jawaban sampai akhirnya Mia memutuskan untuk berhenti mengetuk. Terdengar deruman sepeda motor di belakang Mia. Mia membalik badannya dan memandang sang pengendara motor yang memakai helm ditutup. Sang pengendara membuka helmnya.

“Neo?” Mia mengucek matanya tak percaya. “Ayo ikut aku,” Neo menarik tangan Mia. “Ada apaan? Kok kamu di sini? Kamu mau ngajak aku ke mana?” Mia mengajukan rentetan pertanyaan pada Neo. “Udah, ikut aja,” Neo tak tersenyum seperti biasanya. “Tapi aku mau ketemu Andra. Aku nggak mau ikut!” Mia merasa ada yang salah. “Maka dari itu, ayo ikut aku dan nggak usah tanya-tanya.” Mia terpaksa menurut dan menerima uluran helm dari Neo. Perasaan Mia tak enak, pasti ada sesuatu yang terjadi, batin Mia.

Selama perjalanan yang panjang itu, Mia bertanya-tanya. Apa yang terjadi? Kenapa Neo tahu Mia ada di rumah Andra? Ke mana Neo mengajak Mia? Di mana Andra? Mia memandang jalan yang mereka lewati, dia kaget. Ini ‘kan jalan ke desaku, batin Mia, tapi dia tak berani mengajukan pertanyaan.

Motor yang dikendarai Neo berhenti di depan rumah di mana bendera putih berkibar ditiup angin. “Ada apa ini? Ini ‘kan rumah Andra? Apa ada keluarga Andra yang meninggal?” Mia menjadi panik. Neo diam saja, dia hanya menggenggam tangan Mia dengan erat. Tiba-tiba Ibu Andra muncul dan memeluk Mia dengan mata berkaca-kaca. “Ada apa, Tante? Siapa yang meninggal?” mata Mia mulai ikut berkaca-kaca. Bapak Andra mengikuti istrinya dari belakang. Kok?? Orang tua Andra masih lengkap? Jangan-jangan... Ya Tuhan, jangan Andra, jangan Andra, Mia berdoa dalam hati. “Sabar ya, Mi,” kata Ibu Andra tersendat. “Siapa, Tante? Siapa?” kali ini Mia mulai menangis. “Andra,” Neo menjawab karena Ibu Andra tak mampu menjawab. Deg, jantung Mia seperti berhenti berdetak. Mia mulai kehilangan keseimbangan, badannya limbung, matanya berkunang-kunang. Belum bisa menerima kenyataan, Mia terjatuh pingsan.

Neo mengangkat Mia, lalu membawanya masuk ke rumah dan membaringkan Mia di kamar Ibu dan Bapak Andra. Ibu Andra mengambil minyak kayu putih dan teh manis untuk Mia. Beliau mengusapkannya ke perut Mia. Mia mulai tersadar karena aroma minyak kayu putih tersebut. Mia meneteskan air mata saat Ibu Andra keluar kamar. Neo ganti masuk ke kamar untuk melihat keadaan Mia.

“Jangan nangis, Mi” Mia segera mengusap air matanya. “Apa kamu kenal Andra?” suara Mia terdengar parau. “Bukan kenal lagi, aku sepupu Andra,” Neo duduk di samping Mia. Mia tertegun tapi langsung menguasai diri. “Tapi kenapa Andra nggak pernah ngomong sama aku?” Mia mulai tenang. “Dia sengaja. Kamu tahu nggak, Andra lah yang nyuruh aku nembak kamu. Dia pengen aku ngejagain kamu kalau...,” Neo tak melanjutkan kalimatnya. Dia memandang Mia, sedih. “Kalau apa, Neo?” Mia mendesak. “Kalau waktunya sudah tiba,” kata Neo tak lagi memandang Mia, dia memandang keluar jendela kamar Ibu Andra. “Jadi, Andra udah tahu kalau dia bakal..,” mata Mia mulai berkaca-kaca lagi. “Iya, dia emang udah tahu kalau waktunya udah deket. Selama ini, Andra mengidap sakit jantung dan lever yang sudah sangat parah. Dan dia nggak mau kamu tahu karena dia yakin kamu bakal khawatir banget sama dia, dia nggak mau hal kayak gitu terjadi karena itu akan mengubah persahabatan kalian selamanya,” jelas Neo. Mereka bertatapan, membisu.

Ternyata, Andra ingin sekali bertemu dengan Mia di saat-saat terakhirnya. Dia sengaja ke Yogya untuk bertemu Mia. Andra ingin Mia tahu kalau dirinya sayang sekali pada Mia. Mia langsung pulang ke Yogya karena tak bisa melupakan Andra jika ia tinggal lagi di desanya yang penuh kenangan bersama Andra.

Andra juga sempat menulis surat untuk Mia. Mia membacanya, mencoba untuk tegar sebelum akhirnya membuka surat itu. Kertas itu wangi. Aroma melati, bunga favorit Mia. Ternyata Andra menyertakan melati kering dalam surat itu. Mia berjuang keras untuk tak menangis.

Buat : MIA

Sahabatku,

mungkin aku sudah menemui ajalku saat kamu membaca surat ini, tapi aku nggak mau kamu menangis cuma gara-gara aku. Jadi, hapus dulu air mata kamu ya, say?

Mia tersenyum manis. Andra, Andra. Kamu tuh ya, batin Mia. Dia menarik nafas dan melanjutkan membaca.

Udah dihapus? ^^

Dalam surat ini aku mau ngejelasin beberapa hal. Pertama, tentang Neo. Neo adalah sepupuku. Kamu pasti udah tahu tentang hal ini. Dia nembak kamu ‘kan? Sebenarnya aku yang suruh dia, Neo udah cerita ‘kan?

Kedua, penyakitku. Aku sakit jantung dan komplikasi lever. Sudah setahun lamanya aku menahan sakit ini, mungkin dengan ini, berakhirlah sakit yang kurasakan di dunia ini. Sekali lagi, jangan menangis.

Ketiga dan yang terakhir, Mia. Ya, Mia. Kamu. Aku nggak tahu gimana cara ngomong ke kamu dan kuputuskan untuk kutulis saja dalam surat ini. Aku ingin kamu tahu betapa sayangnya aku sama kamu, Mia. Aku nggak sanggup melihat air mata menetes dari mata sahabatku yang kucintai kalau dia tahu apa penyakit yang kuderita. Aku nggak sanggup melihat sahabatku bersedih hanya karena aku. Aku nggak mau pikiran sahabatku terbebani dengan hal semacam ini. Aku sayang kamu, Mia.

Berjanjilah, jangan kamu teteskan air matamu buat aku ya, Mi. Please.. Ingat satu hal, tersenyumlah pada dunia selalu. Selamanya..

I love you, my bestfriend..

Nb: Aku akan selalu ngejaga kamu, dengan perantara Neo.

Salam terakhir penuh cinta hanya buat kamu,

Andra

Hari-hari setelah kepergian Andra, dilalui Mia dengan senyum tulus seperti yang Andra minta. Walaupun Andra telah meninggalkan Mia, namun tidak sedikitpun Mia melupakan Andra, sahabat terbaik yang pernah Mia miliki.

dennaaaa

haii. kenalken, sayya denna. sayya siswa smp kelas 8, mo naik ke kelas 9. amin.

ini blog baru sayya di blogger.com. selain ini sayya juga punya blog di http://faradienna.dagdigdug.com/

sayya orangnya cuek, sensitif, gokil, lucu, agak baik, dll. hwehe....

tapi sayya bukanlah siapa" di dunia yang kecil ini...

iyya kant??



salam damai. peace selalu. ^^v



today's quote:

I hate to see the one I love happy with somebody

but I surely hate it more to see the one I love unhappy with me...



 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates