Jumat, 20 Januari 2012

karena persyaratan DBL

Bukankah sudah kubilang, sejak setahun lalu aku jatuh? Dan kamu, hanya mengucap beberapa patah.
Malam itu aku bertemankan seorang sahabat, dan sebuah film. The Three Musketeers. Dan besok pagi, tepat 11 minggu berlalu sejak saat itu. Aku ingat betapa mengatakan (yah, teknisnya mengetikkan) kata-kata itu melegakan, membebaskan. Kamu tahu? Aku bahkan tidak menangis. Aku sendiri malah tidak bisa mendeskripsikan perasaan itu. Luas, bebas, terang. Tidak sakit, tidak. Betapa mengejutkan!
Tapi bukankah itu berarti semua yang kusimpan selama setahun itu terlalu melampaui batas? Karena setelah aku memberanikan diri untuk melepasnya, aku terbang. Lama. Cukup lama.

Aku tidak bisa bohong, dari dulu aku selalu bertanya kepada sendiri. “Kenapa harus kamu?”. Dan aku akan merutuk mengingat semua hal bodoh yang aku lakukan karena kamu. Aku tidak pernah membantahmu, kalau kau ingat semua hari yang kita lewati berdua. Aku akan patuh saat kau memintaku melakukan sesuatu. Bodoh sekali rasanya, setelah aku memikirkan hal itu lagi. Karena kamu tidak selalu mau melakukan apa yang aku ingin kamu untuk lakukan.

Kamu bodoh, idiot, dan lain-lain. Dan lain-lain. Tapi aku selalu ingat saat pertama kali kamu bicara padaku.

“Hahaha! Bodoh!”

Begitu katamu. Iya, aku memang bodoh. Mencintaimu membuatku menjadi orang terbodoh di dunia. Namun aku mengakui, aku orang bodoh yang bahagia. Denganmu aku belajar ikhlas. Kamu membuatku menyukai berbagai hal yang sebelumnya aku cemooh. Kamu memberi warna. Kamu memperlihatkan sisi dunia yang lain padaku. Dengan kamu aku belajar begitu banyak hal.

Aku tidak mengingkari bahwa kamu seorang bajingan. Well, kamu bangsat. Tapi aku suka. Karena aku sendiri will always be a lucky bastard. Aku beruntung bisa mengenal kamu sejauh ini. Aku bersyukur. Kamu, aku mensyukuri kamu. Berlebihan? Tidak.

Setahun aku mengenal kamu. Setahun aku bersama kamu. Time together is just never quite enough! Dulu kita tim yang solid. Aku selalu suka saat kamu menghampiriku, atau memanggil namaku, atau hanya sekedar menertawaiku. Aku suka saat kamu bercerita tentang mimpimu dengan menggebu-gebu. Aku suka matamu yang bersinar saat kamu bercerita tentang harimu. Aku suka melihat ekspresi betemu yang khas itu.

Aku menyayangi kekuranganmu. Aku mengagumi kelebihanmu.

Sejak setahun lalu, sejak kamu bahkan belum mengenal aku, kukatakan sekali lagi, aku sudah jatuh.

“Jatuh?”

Aku hanya bisa ber’cape deh’ saat kamu bereaksi seperti itu. Iya, jatuh, hei manusia geblek! Apakah kurang jelas? Fall for you! Tapi sepertinya kamu terlalu pintar untuk tidak mengerti, ya? Sekarang pun, aku belum beranjak dari jatuhku. Masih pada yang terakhir kali.

Aku sudah terbiasa dengan semuanya. Terlalu terbiasa. Sehingga aku hanya akan mengernyit atau menggerutu atau mengomel sebal. Ya gitu aja. Setiap melihatmu seperti itu, seperti tadi. Tapi aku tidak akan protes. Kalau itu membuatmu merasa bahagia, silakan saja. Sebisa mungkin aku akan mencoba ikut merasa bahagia untukmu. Walau di setiap perkataan ‘aku ikut bahagia’ ada hati yang terluka. Namun aku sudah terlalu mengerti kamu. Hei, kamu tidak terima aku berkata begitu? Nyatanya aku memang mengerti, dan selalu berusaha mengerti lebih jauh.

Yellow-nya Coldplay masih mengalun di Winamp-ku. Entah sudah yang keberapa kali lagu ini diputar. Aku tidak bosan. Karena setiap aku mendengar lagu ini, kamu yang terbayang.

“Look at the stars, look how they shine for you.”

Aku tidak peduli dengan apapun yang kamu lakukan. Karena aku (mencoba) mengerti apa alasanmu di setiap hal yang kamu lakukan. Dan aku tidak langsung men-judge semua tingkah kamu itu. Tidak apa. Santai saja. Take your time. Lakukan semua yang memang ingin kamu lakukan.

Kamu tahu…. Aku mencintaimu bukan karena kamu pintar, kamu berbakat, kamu keren, kamu lucu, kamu menawan, atau yang lain-lain.
Aku mencintai kamu karena aku ingin.
#maboksyaratDBL #akteraporSTTBKTP #blablablabla…. #TIKbelommudeng #danlainlain #wzwzwzwz….

Jumat, 13 Januari 2012

sesungguhnya

sesungguhnya orang dengan mudah dapat mengatakan 'alah, move on lah, den. cuman cowo macem dia gitu' 'dia nggak cukup baik buat kamu den' dan blabla dan blabla. sesungguhnya aku juga bisa jika hanya mengatakan hal-hal seperti itu pada mereka yang patah hati.

tapi sesungguhnya, aku sudah terlalu dalam untuk dengan mudahnya merealisasikan saran teman-temanku. sesungguhnya, semua ini di luar kemampuanku. sesungguhnya, rasa ini tak menyulitkan. apa susahnya? menyayangi dia, bahagia saat dia tertawa, menangis saat dia muram.

sesungguhnya, aku selalu ingin mendukung apapun yang dia lakukan. selalu ingin. seperti saat dia mabuk kepayang pada seseorang. aku akan tersenyum lebar dan menyemangatinya. aku bahagia. yah. walau dibalik setiap mereka yang berkata bahwa mereka merelakan seorang yang terlalu dicintainya dengan orang lain, selalu ada perih dan dusta disana.

kamu lihat retweetku dari @falafu? itu buat kamu. sialnya, setelah aku rt, kamu upstat. dan jantungku senam lagi. sialan. berengsek. cuman kamu yang bisa bikin aku kayak gini. seberapapun bajingan dan bangsatnya kamu, aku akan selalu luluh. untuk sekarang.

kamu tahu, mengatakan aku tidak mengharap kamu menjadi milikku itu mudah. membuatku berpikir seperti itu juga mudah. namun membiarkan hatiku mencerna teori itu, setengah mati aku nggak bisa. make it easier. aku nggak terlalu berharap kamu jadi punyaku. aku cuman pengen jadi seseorang yang bikin kamu senyum saat kamu pikir kamu nggak bisa. aku cuman pengen jadi seseorang yang namanya kamu sebut di tiap doamu. aku pengen jadi orang yang kamu khawatirin. aku cuman pengen kamu ngerasain apa yang aku rasain. aku egois? iya. yang namanya orang jatuh cinta itu egois. jadi segimanapun aku bilang kalo aku nggak berharap apa-apa dari kamu, aku muna. jauh di dasar sana, aku ngarep. 

tapi, kalo dengan keegoisan ini kamu pikir aku nggak tulus, kamu salah besar. aku selalu mencintai kamu dengan penuh rasa ikhlas. semua salah dan kurangmu aku sayangi. semua kelebihanmu aku kagumi. setiap senti dari kamu aku puja. aku memaafkan setiap salahmu, yang bahkan tak kamu sadari, dengan setulus hati. seikhlas-ikhlasnya hatiku.


dalam setiap mbribikmu aku menangis. aku nggak bisa rela kamu dengan yang lain. mungkin dengan pengecualian. aku akan ikhlas, saat kamu menemukan orang yang sayang sama kamu melebihi apa yang aku rasain ke kamu saat ini.

dalam setiap statusmu tentang hal-hal seperti itu, aku terluka. aku nggak tenang. aku nggak bisa. 

hei, lihatlah... aku ada buat kamu. kapan kamu bakal ngerti?

Selasa, 10 Januari 2012

tentang genre



Saya, bukan orang yang gemar menyebut diri saya sendiri sebagai penganut suatu genre musik/film dll tertentu. Pada postingan ini, terfokus pada ‘musik’. Namun kurang lebih sama prakteknya pada hal ‘film’. :D

Oke. Saya tidak pernah mengatakan “Aku rocker!” “Aku anak thrash-metal!” “Aku anak celtic-folk!” dan lain-lain, dan lain-lain. Tidak. Saya tidak pernah mengekang diri saya pada satu genre musik tertentu. Saya tidak mengatakan para penggemar genre tertentu tersebut mengekang diri mereka lho, tidak. Hanya saja, menurut pendapat saya, orang-orang yang memproklamirkan diri sebagai penggemar genre tersebut terkesan terpaku dan terikat pada genre tersebut.

Menurut saya, orang-orang yang seperti itu (mungkin) akan selalu merasa agak ditekan untuk menyukai semua band yang beraliran serupa karena dia telah menyatakan dirinya sebagai penyuka genre musik tersebut. Etapi sekali lagi, saya tidak menyalahkan ato bagaimana lho, wong ya namanya aja pendapat. Saya selalu sadar dan paham semua orang memiliki hak atas apa yang akan, sedang, maupun telah mereka lakukan :D

Saya menyukai genre musik apapun yang ingin saya suka. Tidak ada keterikatan pada satu jenis musik tertentu. Ketika saya mendengar suatu lagu, apapun genrenya, dan saya suka, ya saya suka. Gitu aja. Tidak ada paksaan. Tidak ada rasa tertekan. Karena ada terlalu banyak genre musik dengan lagu-lagu fantastis di luar sana, yang sangat sayang untuk dilewatkan hanya karena ‘tidak satu genre dengan apa yang saya suka’. Trust me, bener-bener ada TERLALU BANYAK :))))

Saya selalu terbuka pada setiap genre musik yang ada. Saya telah menonton berbagai konser band dengan genre yang berbeda-beda, dan tiap-tiap suasananya mempunyai ciri khas sendiri. Masing-masing genre musik memiliki keistimewaan dan tingkat estetika yang bermacam-macam. Namun pada dasarnya mereka semua uniquely awesome. Saya akan terus mengeksplorasi berbagai genre dan lagu yang ada. Tidak hanya terpancang pada satu genre tertentu.  

So, try to be more open-minded, mbake, mase :D Coba untuk menghargai setiap genre musik yang ada. Karena saya pikir, setiap genre musik adalah manifestasi terhadap apa yang seseorang pengen orang lain rasakan. Jadi ya cobalah untuk selalu melihat sesuatu itu dari sudut pandang yang berbeda. Itu yang selalu coba saya tanamkan pada mindset saya. Ha karang ya menungsa itu beda-beda :)
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates