Sabtu, 19 Januari 2013

Tempat Sampah Berwajah Murung

Halo. Kamu pasti tak mengenalku. Tak apa, aku pun tak kenal siapa dirimu. Ini hari ketigaku duduk di bangku kelas tua ini. Hari ketigaku pula memandangimu dari tempatku duduk untuk mengerjakan soal Try Out. Pun sudah tiga hari juga wajahmu yang keabu-abuan itu nampak sedih dan lesu.

Mengapakah? Aku sebenarnya ingin sekali mendekatimu kemudian mengajakmu bercakap-cakap. Siapa tahu itu akan sedikit membantumu. Siapa tahu itu akan jadi penyebab senyummu. Namun, maaf, aku tak bisa. Kawan-kawan sekelasku pasti akan tertawa dan menganggapku gila. Jadi tiga hari ini aku hanya mampu memandangimu dari jauh.

Oh ya, aku masih belum dapat menemukan alasan pasti dari sumber murungnya wajahmu itu. Apakah karena siswa-siswa sekolah ini membuang sampah plastik ke dalam kamu? Hal itu tentu saja akan membuatmu sebal dan dongkol, karena kamu khusus menampung sampah kertas. Benar begitu? Jika iya, lain kali saat aku melihat siswa-siswa bandel yang sembarangan itu, akan kumarahi mereka. Enak saja berani membuatmu murung begitu. Mereka itu perlu diberi pelajaran. Tapi apa ya? Maukah kamu memberitahuku hukuman apa yang pantas untuk anak-anak nakal itu? Ah, tapi bagaimana cara kita membicarakan hal ini lebih jauh ya? Hmmm... Mungkin... Kumasukkan saja surat ini ke dalam kamu. Supaya kamu bisa membacanya lalu bersama kita membahas mereka, penyebab rupa sedihmu. 

Atau mungkin kamu punya alasan lain atas kemurunganmu? Apa diam-diam kamu menyimpan rasa pada tetanggamu, sang Tempat Sampah Plastik? Atau, apa? Berceritalah padaku kapanpun kamu mau. Kamu bisa membisikkan jawaban dari suratku pada semut yang merambati tubuhmu, atau pada angin yang menerpa wajahku.

Kalau begitu, sudah dulu ya! Aku mau menyelesaikan soal Geografi ini dulu! Doakan yang terbaik untukku! See you!

Kamis, 17 Januari 2013

Selamat Pagi!

Selamat pagi! Aku suka mengucapkan kata-kata itu. Memberikan secercah cahaya setelah petang berakhir. Karena memang begitulah pagi, benar kan? Jadi, selamat pagi!

Selain suka mengucap kata-kata tadi, aku pribadi juga menyukai pagi. Mungkin kamu akan berpikir aku hanya ingin meniru kamu. Sedari dulu kamu memang menyukai segala hal tentang pagi. Matahari yang muncul dari ufuk timur, cahayanya merambati jendela kamar tidurmu, hangatnya menjalari ujung-ujung kakimu. Tetapi bukan, bukan. Aku tak meniru kesukaanmu terhadap pagi. Aku punya alasan tersendiri.

Katamu, kamu lahir saat fajar. Kemudian kamu menambahkan bahwa bisa saja itulah salah satu penyebab rasa sukamu pada pagi. Aku selalu ingat ritualmu untuk menunjukkan penghargaanmu terhadap pagi. Ketika langit masih gelap, seusai sholat subuh kamu akan keluar menuju halaman belakang rumahmu dan langsung disambut sebentang sawah milik ayahmu. Oh ya, kesukaanmu pada pagi juga membuat kamu bangun lebih pagi dariku tiap hari. 

Sampai mana tadi? Oh, tentang ritualmu. Di halaman belakang rumahmu itulah kamu akan diam saja memandangi langit yang mulai berubah warna. Kadang sambil sesekali kamu meregangkan otot dan melakukan pemanasan. Kemudian saat matahari mulai terbit, kamu akan berlari menyusuri gang-gang kecil di dekat rumahmu. Kamu memang tak pernah melewatkan ritual lari pagimu ini. Buatmu itulah salah satu cara menghargai pagi. Buatku itulah caramu membuatku jatuh cinta sekali lagi, tiap hari. Tiap pagi.

Dan karena itulah, aku menyukai pagi. Selamat pagi!

Senin, 14 Januari 2013

Get your hands off the boy,
Can't you see that he belongs to me?
And I don't appreciate this excess company.
Though I can't satisfy all the needs he has
And so he starts to wander...
Can you blame him? --
Weezer


Yang telah disesuaikan.
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates