Jumat, 15 Maret 2013

Elevator Love Letter [Cerpen]


Coffeemaker tua kepunyaan divisiku berdesing pelan. Dan aku menunggu sambil mengetuk-ngetukkan jemariku sedikit tak sabar. Sebenarnya ada coffeemaker lain yang lebih baru dan canggih di kantorku, namun aku masih saja memakai yang ini. Mungkin karena sudah terlanjur nyaman dan terbiasa. Entahlah.

Ah! Akhirnya.

Kemudian aku menuju ruanganku dengan segelas besar kopi yang masih mengepul panas. Aromanya pas menguar. Tidak terlalu lembut, tidak terlalu kuat juga. Persis seperti yang kuinginkan. Oh, juga tidak lupa setoples kue nastar kesukaanku yang kuambil dari lemari pantry.

Sesampainya di meja kerjaku, kuletakkan cangkir tadi di samping setumpuk rancangan jenius yang tentu saja kubuat untuk memikat hati para klienku.

Well, back to work...” gumamku pada diri sendiri.

Rekan kerjaku sudah pulang sejak dua jam yang lalu. Jam dinding pun telah menunjukkan pukul 11.30 malam. Biasanya pada waktu-waktu seperti ini aku sudah berada di sofa empuk ruang tengahku untuk sekedar menonton sitcom dari saluran tv kabel ataupun mencoba resep masakan baru.

Tetapi, sudah hampir setengah tahun ini aku bekerja seperti orang gila. Menggarap dan menyelesaikan setumpuk rancangan pesanan klien, mengarsip data-data penting, mengurusi berbagai hal administrasi, dan yang lain-lain. Bahkan pada hari liburpun aku masih saja berkutat dengan segala tetek-bengek dari kantor. Sebetulnya aku tidak wajib melakukan semua itu... But I chose to.

Mengapa kamu membebani dirimu sendiri dengan hal-hal macam ini, Son? Pertanyaan itu kerap kali muncul dalam kepalaku, yang akan segera kutepis jauh-jauh dengan pikiran ‘Karena aku ingin.’ Tidak, aku tidak sedang membohongi diri sendiri. Ini lebih ke... Meyakinkan diri. Membohongi dan meyakinkan tentu saja adalah dua hal yang berbeda, kan?

Pada kenyataannya, aku sebenarnya sedang mengambang. Entah apakah itu merupakan kata yang tepat untuk mengungkapkan keadaanku saat ini. Tetapi memang itulah yang terjadi. I’m stuck in this pathetic state.

Aku tak tahu apalagi yang aku inginkan. Menakutkan memang. Tapi benar. Bukan bermaksud menyombong, namun aku adalah seorang wanita yang dapat dibilang amat sangat mandiri dan berdedikasi. Lihat saja, hanya dalam kurun waktu 7 tahun aku dapat meraih jabatan idamanku di kantor ini.

Sonya Notonegoro, 29 tahun, seorang Creative Director yang sangat menjanjikan dan mempunyai masa depan yang cerah. Itu menurut rekan-rekan kerjaku, lho. Gajiku lumayan besar dan aku pun telah memiliki rumah sendiri. Tidak terlalu mewah dan luas, namun sudah sangat cukup untuk seorang aku. Memang, aku belum mempunyai pasangan hidup. Tapi itu bukan masalah buatku, karena toh aku juga sama sekali belum tertarik untuk memiliki hal yang satu itu.

Kalau ditanya apakah aku bahagia... Iya, aku bahagia, kok. Hampir segalanya tercukupi bahkan mungkin lebih. Aku juga tak pernah lupa bersyukur pada-Nya yang telah melancarkan hampir segala aspek dalam kehidupanku.

It’s just... Pada titik ini, I don’t know what to do or to reach anymore. Karena itu kuputuskan untuk melakukan yang terbaik dalam karirku. And so, here I am now... Bermetamorfosis menjadi seorang workaholic. Dengan mata yang kerap kali menghitam karena lembur semalaman, dan wajah yang terkadang sayu karena terlalu kelelahan. Tetapi sekali lagi, sama sekali bukan masalah bagiku tenggelam dalam dunia kerja seperti ini. It’s much better than just floating around in some awful phase of life.

Sekarang hanya tinggal aku suara pelan AC yang berhembus, dan suara derak keyboard komputerku. Sedih juga sebenarnya, berpikir bahwa aku sudah terlalu terbiasa dengan semua ini. Another form of loneliness, maybe. But hell, I don’t care.

Kulirik jam yang tergantung di dinding. Astaga, sudah hampir pukul satu dini hari. Aku bisa saja bekerja sampai pukul tiga pagi kalau aku mau, tapi aku kasihan pada sopirku jika harus menungguku selama itu. Toh aku juga harus selalu menjaga kondisi tubuhku.

Kurapikan kertas-kertas yang berserakan di atas meja lalu kusesap kopiku sampai tak bersisa. Setelah beres semua, aku beranjak menuju jendela ruanganku untuk menutup tirainya. Sebelum aku menarik tirai, aku berhenti untuk memandangi denyar malam ibukota. Kebetulan kantorku terletak di lantai atas bangunan ini, sehingga aku dapat mengamati lalu-lalang dan kerlap-kerlip lampu kendaraan di malam hari dari sini kapanpun aku mau.

Lampu-lampu yang tak henti bersinar dan berkerlap-kerlip dari bawah sana selalu berhasil mempesonaku. Aku tak pernah bosan memandangi semua itu. Tak pernah sekalipun. Ini hal yang menyenangkan, sekaligus menenangkan. Ah, sayang sekali bintang-bintang tak ada satupun yang nampak.

Setelah cukup puas memandang ke luar, segera kututup tirai jendela ruanganku itu. Kemudian sekali lagi aku mengecek isi ruanganku, lalu ke pantry untuk menyeduh segelas kopi yang kutempatkan dalam cangkir plastik sebelum akhirnya melangkah dengan tenang ke arah lift.

Lift pun berdenting dan membuka. Seperti biasa, tak ada seorang pun di dalamnya. Langsung saja aku masuk dan menekan tombol. Pintu lift menutup dan lift mulai bergerak turun. Kusesap sedikit cangkir kopiku yang entah keberapa untuk hari ini. Wajar saja, untuk seseorang dengan jam terbang sepertiku kopi merupakan sebuah kebutuhan.

Sembari pelan-pelan menikmati kopi di tanganku, aku menengadah menatap langit-langit lift yang kugunakan ini. Aku tidak paham bagaimana, namun saat sedang melamun dalam lift, kilasan hal-hal yang kulakukan hari ini melintas dalam kepalaku. Ini aneh, namun berguna juga.

Another hectic day, huh? As always. Not that I’m complaining... Ah, but you know it better than me, don’t you? I don’t have to tell it again to you, you’ve already knew about it,” kataku masih sambil menatap langit-langit. Entah kutujukan untuk siapa, lift ini ataukah padaku sendiri.

Lift berdenting lagi, dan pintunya membuka. Aku melangkah keluar. Sepatu hak tinggiku menimbulkan bunyi ‘tok tok tok’ yang menggema di lobby bangunan ini. Suasana sekitar sudah sepi sekali. Mungkin hanya tinggal segelintir orang saja yang masih berada di sini.

Aku sedikit tersentak saat tiba-tiba lift berbunyi lagi di belakangku.

“...halo?? Haloooo?! Ah, SHIT!” terdengar suara gusar seseorang. Aku menoleh dan kulihat seorang lelaki dengan ponsel menempel di telinganya. Ia memakai kemeja warna biru muda dengan dasi yang sudah dilonggarkan. Di tangannya tertenteng jas dan sebuah tas kerja warna abu-abu tua. Lelaki itu terus menggerutu.

Baru aku sadar aku telah terlalu lama menatapnya saat ia akhirnya menyadari keberadaanku. Matanya menatap lurus pada mataku. Sepasang mata gelap itu menyiratkan tatapan yang...

***




Greaaaaaaaaat. Lembur lagi, lembur lagi. Lo lembur aja sampai mampus, Ga. Kalau bukan si Jenggot sendiri yang nyuruh ngerjain ini, mungkin gue malam ini udah ngorok di kamar. Sabar, Ga. Ini juga salah satu langkah menuju kesuksesan elo! Terima aja, nggak usah ribut.

Iya. Ini udah dini hari, dan gue masih berkutat dengan laporan meeting tadi. Tapi yang masih di sini tinggal gue seorang. Sialan memang.

Gue Arga Gilang Wijaya. 31 tahun. Akuntan paling handal yang pernah elo kenal. Ganteng, atletis, cerdas, berwibawa... Yah, itu kata salah satu office girl kantor gue, sih. And, oh yea, no girl... Pacar nggak ada. Males aja punya. Kalau sekedar temen tidur sih banyak. Ngapain harus susah-susah punya pacar? Kagak ada waktu buat ngurusnya juga.

Well... Memang, kerjaan gue menuntut buat menjadikan kantor sebagai ‘rumah’. Gue kadang udah kayak nggak punya hidup selain di kantor. Kalau lagi benar-benar suntuk, paling mentok cabut dari kantor terus minum bareng temen-temen kantor gue. Ya gue nggak ngeluh juga sih ini sebenernya. Cuman... Dengan hidup gue yang sekarang udah kayak gini, kadang gue bingung apa yang sebenernya jadi tujuan hidup gue.

Dulu waktu masih sekolah target selanjutnya ya pasti dapet universitas bagus buat nerusin kuliah. Waktu kuliah, udah ngrancang tuh mau kerja di mana dan jadi apa. Now that I’ve reached those certain goals... I feel pointless. Hidup ya begini-begini aja siklusnya.

Jadi gue terima aja semuanya. Ya, emangnya gue bisa gimana lagiii... Gue kerja juga hasilnya udah lumayan banget. Hampir nggak pernah kekurangan. Gue harusnya bersyukur. Iya, tahu kok.

“...hello helicopter, will you be my friend? Will you take me away?” suara Justin Pierre menggema dalam ruanganku. Gue berhenti sebentar dan melamun memandang ke arah jendela kaca superbesar di ruangan ini.

Hanya ada lampu-lampu dari bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, seperti bangunan yang sedang kutempati ini. Tiba-tiba gue merasa kosong. Dan tahu-tahu tangan gue udah nempel di kaca aja.

Dingin.

Gue melihat ke bawah. Mobil-mobil masih banyak berlalu-lalang. Dari atas sini kelihatan lumayan indah juga sebenarnya.

Hello helicopter, are you listening?” tutup Motion City Soundtrack dengan syahdunya.

Menurut lo sedih nggak sih lagunya? Kok rada gue banget, ya? Hidup yang... Rather monotone. Barely had no friends. Nobody to talk to. Eh, tadi gue udah bilang kan kalo temen tidur gue banyak? Well, kenyataannya mereka semua sama aja dan nggak terlalu ngaruh dalam hidup gue. Gue sama mereka ya penyaluran nafsu semata. But, not emotionally. Never.

No one has ever been there for me, just to listen to my grumbling about how sucks my day is. Nggak ada. Lagian gue juga terlalu sibuk dengan berbagai urusan yang nggak ada habisnya. Hmmm, kalau lo nyaranin gue buat give it all a rest and settle down... No, thanks. At least, not now. Belum pengen dan belum siap juga.

Gue melihat ke arloji gue. Damn! Udah mau jam satu aja! Mending gue beres-beres sekarang daripada nanti kalau pulang kemalaman dicegat preman di jalan. Ogaaaah...

Setelah selesai beres-beres, gue segera keluar dari ruangan. Salah satu pintu lift terbuka dan gue masuk.

Gue melamun lagi di dalam lift.

“Satu hari yang cukup bangsat kembali terlewati... Yah, kayak biasa. Bunch of idiots everywhere... Setumpuk laporan yang kudu gue selesaiin dalam satu malam... Lama-lama terbiasa juga sih, tapi,” gue ngomong sendiri. Anggap aja gue ngomong sama lift ini. Melegakan juga rupanya.

Tiba-tiba ponsel gue bunyi keras banget. Setan!! Kaget! Siapa juga sih yang nelpon jam segini?

ALAMAK SI JENGGOT! BOS GUE!!!

“Ya, pak? Ada yang bisa saya bantu?”

“Gimana, laporan yang tadi saya tugaskan ke kamu sudah selesai, kan?!”

“Sudah, pak. Ini saya masih di dalam lift kantor, baru saja mau pulang...”

“Bagus, Arga! Kamu memang paling bisa saya andalkan!”

“Terima kasih, pak...”

“Karena itu saya ada tawaran promosi jabatan untuk kamu... Tapi di kantor cabang saya di Singapura. Sepertinya kamu kandidat yang paling pantas untuk jabatan itu. Bagaimana, menurut kamu??”

“HAH? Singapura, pak? Kantor cabang bapak yang paling terkenal itu? BAPAK SERIUS?”

“IYA LAH SAYA SERIUS. Kalau kamu jadi saya promosikan ke sana, kamu akan mendapat...”

TUT TUT TUT.

“...halo?? Haloooo?! Ah, SHIT!” Ponsel gue kehabisan baterai. Lampunya meredup kemudian akhirnya benar-benar mati. Bersamaan dengan itu pintu lift kembali terbuka.

“Sialan. Kalo lagi ada kabar bagus aja, mati lo! Lama-lama gue ganti hape juga!” gue sebal.

Gue cepat-cepat melangkah keluar dari lift sebelum pintu lift itu menutup lagi. Dan ternyata tak jauh di depan gue ada seorang cewek yang lagi ngeliatin gue. BUKAN, BUKAN HANTU KOK. Gue tahu cewek ini. Dia yang kerja di bangunan ini juga. Tapi gue lupa kantornya di lantai berapa.

Dia kelihatan beda malam ini. Blus yang ia kenakan sudah tidak rapi, matanya sedikit menghitam, dan wajahnya kuyu. Nggak karuan pokoknya. Dia pasti sudah capek banget. Tapi... Nggak tahu kenapa, semua yang ada pada dia itu malah membuat gue merasa...

***

My office glows all night long
It's a nuclear show and the stars are gone
Elevator, elevator
Take me home...

***




Minggu pagi. Aku mencium aroma lembut kopi dari ruang tengah. Kukenakan gaun tidurku lalu sambil menguap dan menggeliat, aku berjalan sempoyongan menuju arah aroma itu.

Arga telah duduk santai sambil membaca surat kabar langgananku. Dan sepertinya dia tak menyadari kehadiranku. Dia sudah tampak segar. Garis-garis wajahnya yang tegas itu  membuatnya tampak lebih mempesona pagi ini. Punggungnya yang lebar tampak kokoh. Ingin kudekap dia dalam pelukanku sekali lagi...

Punggungnya yang hangat dan berkeringat... Wajahnya yang begitu rupawan dan dekat... Dekat sekali dengan wajahku...

“Hei. Udah bangun ternyata?” katanya saat melihatku berdiri di depan pintu kamarku. Aku mengangguk. Kemudian aku duduk di sebelahnya.

Dia diam. Aku diam. Hening beberapa lama.

“Eh... Kayaknya aku udah harus pulang deh. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal?” tanyanya. Suaranya terdengar sedikit canggung. Aku maklum. Dia sepertinya juga sama seperti aku, bingung harus bagaimana.

Aku masih diam.

***

Heh, ini cewek kenapa malah diem aja?? Jawab kek! Udah gitu dia keliatan cantik banget, lagi, pagi ini... Daaamn... Gaun tidurnya... Rambut panjangnya yang lembut...

Shut up, Ga! Semuanya cuman bakal sampai di sini aja. Jadi memang kudunya lo segera cabut. Kenapa nggak dari tadi aja sih waktu dia belum bangun? Nah, dia sekarang malah bengong tuh... Buruan ngomong dong, Son! Awkward banget ini!!

Tiba-tiba Sonya melingkarkan tangannya ke pinggang gue. Gue kaget, tapi tetap diam. Masih nunggu dia bicara. Gue lirik wajahnya. Matanya terpejam.

“Nanti aja pulangnya... Ini kan hari Minggu,” gue menatap dia, mencoba memastikan apakah dia serius atau hanya basa-basi. Kedua matanya membuka dan balas menatap gue. Gue kok jadi salah tingkah gini ya?!

“Ya?” tanyanya pelan. Dan gue mengangguk. Jantung gue berdebar kencang. Sonya mengencangkan pelukannya lagi. Kali ini gue bales meluk dia.

Iya, Son. Gue nggak pulang. Gue di sini. Gue pengen di sini...

***

Don't go, say you'll stay
Spend a lazy sunday in my arms
I won't take anything away
Don't go, say you'll stay
Spend a lazy sunday in my arms
Don't take anything away


#nowplaying Elevator Love Letter - Stars
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates