Senin, 28 April 2014

To the stars and back.



Heavenly.

Itu adalah satu kata yang paling cocok untuk menggambarkan suasana konser kolaborasi Banda Neira, Layur, dan Gardika Gigih Pradipta kemaren Sabtu. Iya, surgawi banget menurut saya. Sepanjang konser saya hanya bisa merasakan haru penuh yang melesak-lesak dalam dada. Gila, Suara Awan was so beautiful it hurts

Twitter

Karena saya sukaaaa banget sama musiknya Layur dan Banda Neira (belakangan ketambahan Mas Gigih juga sejak Stomp Out), jelas nggak pengen kelewatan nonton dong. Seminggu sebelumnya saya sukses mendapatkan undangan ke konser Suara Awan, dan saya beruntung banget bisa jadi salah seorang yang menyaksikan pertunjukan musik yang begitu awesome, sweet, heartwarming, and heartbreaking all at the same time. 

Twitter

Suara Awan dimulai tepat pukul 8 malam. Waktu saya sampai ke venue, sudah ada Mas Layur (Febriann Mohammad) yang sudah bersiap-siap di atas stage. Dimainkanlah lagu pertama, Are You Awake?-nya Layur. Sembari lagu mengalun, masuklah satu-satu Mas Gardika Gigih, Mbak Rara Sekar, dan Mas Ananda Badudu yang langsung memainkan bagian mereka. Dan anjir, saya nangis. Saking indahnya Are You Awake? ini. Serius. Emosi saya tumpah, padahal masih lagu pertama. Damn...

Kemudian datenglah tiga orang mas-mas ngganteng yang langsung pegang cello dan violin, yaitu Mas Jeremiah, Mas Alfian, dan Mas Suta Suma. Nah, Mas Jeremiah sama Mas Alfian ini anggota Bad Cellist, yang dulu pernah saya tonton di Fombi. Ternyata lagu pertama tadi langsung dimedley sama Kereta Senja-nya Mas Gigih.

Lagu ketiga yaitu lagu favorit saya waktu pertama mengenal Banda Neira, Hujan di Mimpi. Dibawakan dengan aransemen yang berbeda dari biasanya, terdengar begitu syahdu~ Setelah itu lagu baru mereka yang dinyanyikan pertama kali di Stomp Out, Matahari Pagi. Saya sempet nyatet liriknya, tapi ketinggalan terus mutung deh huehuehue. Tak apaaaa. Lagu selanjutnya juga lagu baru mereka niih, judulnya Hal-Hal yang Tak Kita Bicarakan. Kalo yang ini saya sempet nyatet reff-nya (sepertinya). Begini:

Langit dan laut, dan hal-hal yang tak kita bicarakan
Langit dan laut, dan hal-hal yang tak kita bicarakan
Biar jadi rahasia, menyublim ke udara
Hirup dan sesakkan jiwa

Begitu kalo nggak salah yaaa. Woghiya, sebelum nyanyi lagu itu mereka sempet mau salah lagu awalnya, dikira lagu selanjutnya Derai-Derai Cemara. Penonton pada ketawa deh gara-gara Mbak Rara. Nah, habis itu ada lagunya Mas Gigih dengan vokal dari Banda Neira, Tenggelam (yang liriknya "Tenggelam ke dalam lamunan sebuah perjalanan" gitu diulang terus hihi).

Twitter

Setelah tenggelam ke dalam sendu dan syahdu, penonton diajak hanyut bersama lagu Hujan dan Pertemuan-nya Mas Gigih yang enerjik dan ceria. Permainan lampunya pun asoy! Bikin lebih dapet feel-nya. Penonton juga pada ikut tepuk tangan sepanjang lagu. Barulah setelah lagu itu, dibawakan Derai-Derai Cemara yang liriknya dari puisi terakhir Chairil Anwar. Tentu saja, bikin merinding. In a good way, pastinya.

Kemudian I'll Take You Home-nya Mas Gigih yang merdu dan lembut... Dilanjut dengan lagu terakhir, Suara Awan, lagunya Mas Layur yang dijadikan nama konser kolaborasi ini. Eargasm banget pokoknya malam ini!

Terus Mas Nanda akustikan Berjalan Lebih Jauh, tapi nggak nyanyi, dia memperkenalkan para performers Suara Awan malam itu satu persatu. Tapi ya akhirnya nyanyiin reff-nya sik, bareng-bareng sama penonton. Saya dengan bahagia ikut sing-along dong tentunya. Aihhh, konser sudah berakhir :(

Eits, karena penonton pada nggak pulang-pulang, dibawakanlah encore, Di Atas Kapal Kertas! Wuhuihuihui, sedaaap! :"> Tapi... Setelah lagu encore berakhir pun penonton masih ngeyel nggak pulang-pulang. Dikasih lagi lah encore kedua, ngulang Are You Awake? lagu pertama tadi. Hahahahahaha :D dan setelah lagu yang ini selesai, penonton barulah mau beranjak pulang.

Konser rahasia (mengutip Mbak Rara) ini sebentar bangeeet hiks. Tapi ya maklum juga wong acaranya gratisan dan memang dimaksudkan eksklusif, nggak besar-besaran. It's okay though, karena saya merasa puas banget kemaren. Menonton Banda Neira, Layur, Gardika Gigih, dan String Trio di Amphiteather Rumah Budaya Tembi, di bawah langit penuh bintang, dikelilingi hamparan luas sawah yang menambah damai dan manis suasana malam itu, siapa coba yang bakalan nggak trenyuh atine? :')

Maturnuwun banget buat konser kecil yang menghangatkan hati kemaren wahai Banda Neira, Layur, Gardika Gigih, dan String Trio. Kalian istimewa. Musik kalian begitu menggugah, inspiratif, mendamaikan, dan saya cinta banget pokoknya. Membuat saya terbang mengangkasa, melayang di antara bintang-bintang, kemudian turun kembali ke bumi dengan hati yang begitu bahagia. Beginilah seharusnya musik berkualitas Indonesia! Semoga mereka dapat terus berkarya dan tambah dihargai semakin banyak orang. :)

Oleh-oleh...

Jumat, 25 April 2014

Yea, right.

Saya nyatakan bahwa mulai postingan ini, dengan resmi saya mengganti pronomina persona.

Senin, 21 April 2014

Di Restoran (Sapardi Djoko Damono)

Google

Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput --
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu di tengah sungai terjal yang deras --

kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.


Senin, 07 April 2014

Returning Home

A translation I made for this weird little scribble.


RETURNING HOME

Returning home
was not meant for us to seek
for those scattered pieces of dawn, the incarnation
of our embodying thoughts
from the olden days of our own imagination
as well as intertwining photograph of dreams

Returning home
was
undefined.

Still can’t I interpret this
savage-visualizing, insignificant
phrase

            when I got to walk down this pathway once more.

Kamis, 03 April 2014

Rindu.




"Mas Elaaaang! Nonton TV-nya udahan dulu, ayo makaaaaaan!!"
"Hih! Rewel banget sih."
"Wogh, kurang ajar. Aku bilangin ibu!"
"Heeeeh, jangaaaaan!"
"IBUUUUU!"

***

Tepat pukul tujuh, dan jam di ruang tamu berdentang menggema. Ruangan ini masih senyap, hanya denting sendok dan garpu beradu di atas piring berisi nasi goreng buatan ibu. Namun tiada satupun dari orang-orang di meja ini yang merasa perlu berkata-kata. Mendung masih membayangi wajah-wajah di depanku. Aku menghela nafas panjang. Ini begitu menyakitkan. Seolah lukanya mendarah daging, tak akan kering untuk kemudian sembuh. Tidak. Entah...

***

"Bu, aku pamit ya, itu udah disamperin Frankie. Doakan mid-test hari ini lancar!" Mas Elang mendekati ibu kemudian mengecup kedua pipinya. Ibu tersenyum dan mengiyakan. Aku mencebik padanya.

"Adeknya aku yang paling lucuuuu, masmu ini berangkat dulu ya! Demi masa depan Indonesia yang lebih baik!" katanya sambil memelukku. Aku terkejut tapi kemudian pura-pura jengkel.

"Ih apa sih peluk-peluk! Mas Elang bau kecut!"

"Hihihi, tambah imut deh kalo lagi ngambek gitu. Ya udah ya, aku berangkat. Bu, pamitin ke bapak, ya!" ia mengecup pipiku sekilas. Mas Frankie, teman dekat Mas Elang, ikut pamit pada ibu.

"Naik motornya hati-hati ya, Frank. Jangan bercanda di jalan," pesan ibu pada Mas Frankie.

"Ibu jangan ngomong gitu dong ke Frankie, Elang kan jadi malu!" canda Mas Elang, kemudian ia dan Mas Frankie tertawa. Ibu hanya geleng-geleng kepala. 

Betapa menyebalkannya kakakku itu. Tapi tumben, kok dia mau peluk-peluk segala. Kupandangi punggungnya yang menjauh dengan perasaan sangsi. Ada sesuatu yang berpendar lemah... Dan aku tak tahu apa itu.

***

Ibu dan aku berpelukan gemetar saat melihat tayangan di televisi. Ayah diam, meremas koran yang tadi dibacanya. Di layar tersiar liputan langsung dari universitas kakakku, di mana aksi damai yang membuat mid-test-nya dibatalkan, berlangsung. Suasananya begitu mencekam dan menakutkan. Baku tembak terjadi di mana-mana. Mahasiswa terluka mulai berjatuhan. Hatiku tak karuan. Ya Tuhan, tolong... Tolong jaga Mas Elang.......

***

Sunyi tiada jengah-jengahnya menyelimuti rumah ini. Sunyi yang menyayat seperti belati. Melepas keheningan yang ganas untuk menyerang setiap sudut rumah. Untuk mengakar dalam relung hati penghuninya. Untuk memicu arus deras kenangan gelap yang menerbitkan embun di pelupuk mata ini.

Entah sudah berapa hari, atau mungkin bulan, atau bahkan tahun, yang telah terlewati sejak Mas Elang meninggalkan rumah ini untuk selamanya. Tapi toh aku tahu ia pergi untuk mendapat tempat yang lebih baik di sisi-Nya. Aku yakin ia bahagia.

Kubuka jendela agar ruangan ini tak pengap. Udara sejuk berhembus, membuatku berhenti sejenak untuk menikmati sepi asing yang mengambang. Keheningan merambati sekujur tubuhku, dingin. Kupandangi tiap jengkal kamar ini dengan beragam perasaan yang mengoyak hati. Kemudian aku mendekati meja di pojok kamar, masih terdapat buku-buku kepunyaannya di situ. Sambil menghela nafas berat, aku mengganti bunga yang mulai layu di vas kaca yang terletak di sudut meja. Menggantinya dengan bunga yang sama, hanya tentu saja masih segar dan merekah wangi.

Kamar Mas Elang dibiarkan seperti dulu. Walau membuat hati perih tiap kali ada yang melewatinya, namun tetap tidak ada seorangpun yang berniat melakukan apa-apa pada kamar itu. Tidak ada yang rela dan sampai hati. Tidak ada yang ingin menghapus perlahan sosok Mas Elang dari ingatan. Tidak ada. Tidak akan pernah ada...


2014,
Untuk Elang Mulia Lesmana 
dan tiga korban Tragedi Trisakti lainnya.

***

Rumah kosong sudah lama
ingin dihuni
adalah teman bicara, siapa saja
atau apa: jendela, kursi
atau bunga di meja
Sunyi menyayat seperti belati
Meminta darah yang mengalir
dari mimpi 

(Rindu - Subagio Sastrowardoyo)






11.44 pm (besok UTS PPD astagaaa!)
Memutuskan untuk memanifestasikan segala perasaan yang timbul 
atas musikalisasi yang begitu indah, sendu, dan kelam ini.
Fiksi, dengan referensi:
Gambar: weheartit.com
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates