Selasa, 27 Mei 2014

Samudera

weheartit.com

Ombak bergulung,
entah pelan atau kencang
pada nanar matamu nyalang
Sedang ia sudah lama tenggelam,
tersapu gelombang sampai dalam

Ombak bergulung,
seperti amuk binatang
menyatu teriak getir wanita jalang
Sedang hening memeluk malam,
merenggut kembali ia ke dalam
samudera di kedua bola matamu.

03.50 p.m
PKM fakultas.

Senin, 26 Mei 2014

Mini ben-benan konser di sebuah kafe, di lantai atas sebuah toko buku.



Hmmm~~ Jadi sebenernya agenda kemarin Minggu adalah dateng ke Folk Afternoon di LIR terus ke TBY nonton Upik nari di Gelar Seni Tradisi, terus meluncur ke Djendelo buat nonton Mini Party ini. Tapi ya apalah dayaaaa saya harus melewatkan Folk Afternoon karena sesuatu dan dateng ke TBY telat banget, acaranya udah rampung --" Tapi untungnya masih bisa nonton walo cuman dari rekaman hehehe. Upik keren banget lhoooo narinya.

Rampung dari TBY saya langsung ke Djendelo Koffie buat nongkrong sekalian nungguin Mini Party kaaan. Dari para performers di Mini Party ini saya cuman pengen nonton Answer Sheet sama Summer in Vienna siiih hehehe sekalian minta legalisir dari mereka di CD koleksyenku :3 Tapi ternyata performers yang lain keren-keren juga.

Mini Party yang dipelopori oleh Jogja Grunge People ini dimulai dengan bedah buku Grunge Indonesia yang ditulis oleh YY (Klepto Opera/Ballerina's Killer). Pembicaraan yang begitu menarik mengenai isi buku yang menceritakan awal mula masuknya musik grunge ke Indonesia dan bagaimana difusi bisa terjadi. Jadi pengen bacaaa! Sayang udah nggak dicetak ulang...

Twitter

Setelah bedah buku selesai, Sabarbar tampil dengan musiknya yang... Apa ya? Grunge banget? Eh itu grunge bukan yaaa, saya sendiri ngga terlalu mendalami permusikan genre grunge selain band-band yang mencirikan genre ini sendiri kayak Nirvana, Pearl Jam, dan Stone Temple Pilots. Eh iya, ada nih lagunya Sabarbar yang liriknya nggapleki banget, tentang cewek namanya Chintya, mahasiswa seni rupa fakultas seni budaya apa gimanaaa gitu hahahaha ngakak deh sama temen saya.

Answer Sheet pun tampil. Ini adalah kali kesekian saya nonton mereka live. Sudah kelima kali lebih pokoknya hahaha, soalnya saya emang penggemar musik mereka yang oh-so-good abis. Kemaren mereka ngebawain total 4 lagu, Hills of Rabbit Face, Stay Leave, A Love Beach Sadranan dan satunya lagi lupa.


Answer Sheet

Sehabis Answer Sheet, ada Summer in Vienna. Kemaren adalah pertama kalinya saya nonton band indiepop yang musiknya manis ini, dan puwas! :"> Mereka ngebawain 5 lagu kayak Marshmallow Cheeks, Have a Nice Day, Vienna, Falling Leaves dan satunya saya juga lupa hehehehe.


Summer in Vienna

Ballerina's Killer

Rampung bermanis-manis ria bersama Summer in Vienna, dilanjutlah dengan Ballerina's Killer asal Surabaya. Hal pertama yang bikin saya tertarik sama band ini adalah Mbak UQ, vokalisnya yang berjilbab tapi sangar banget suaranya. Jadi keinget sama vokalis band underground Gugat, Mbak Achie. Bukannya gimanaaaa, tapi ya memang dalam industri musik macam gini kan agak jarang anggota cewek yang berjilbab, penontonnya juga sih.

Contohnya aja saya, waktu dulu nonton konser band hardcore underground di RRI, seruangan itu cuman dua orang yang pake jilbab. Saya, sama mbak-mbak yang nemenin pacarnya. Kemaren waktu di LATG juga, mbak-mbak jilbaban masih bisa dihitung. Sekali lagi, bukannya gimana-gimana, tapi seneng aja liat ada band bergenre keras yang anggotanya pake jilbab. Soalnya jujur aja sebagai penonton gigs yang pake jilbab kadang saya ngerasa dikit salah kostum. Hehehehe. Tapi ya nggak papa saya tetep enjoy aja, saya suka musiknya saya tonton konsernya :D




Ballerina's Killer kemaren juga membawakan sekitar 4-5 lagu sepertinya. Satu lagu yang saya kenali yaitu Taman Pusat Badai, single yang mereka luncurkan tahun 2014 ini. Setelah selesai Ballkill ini saya memutuskan untuk pulang aja karena Senin masuk kuliah jam 9 (--,)

Hoooo jadiiii, saya berhasil dapet legalisir dari para anggota Answer Sheet dan Summer in Vienna dong hehehehe... Walopun kurang tandatangan Mas Abi Answer Sheet ;(



Personil kedua band itu ramah-ramah, baik, kocak pula. Seneng! Sempet ngobrol-ngobrol juga sama Mas Rizky dan Mas Matias-nya Summer in Vienna. Mas Rizky ini ndagel ternyata, dia guyon tentang Mas Suryo (Answer Sheet) yang katanya mirip Virzha Idol. Yaaah karena udah nggak pernah nonton TV ya saya tentu nggak paham, jadi Mas Rizky googling dulu deh nyariin foto Virzha buat saya liat, yang emang ternyata agak mirip Mas Suryo hahahahaha. Cuman bisa mesam-mesem aja deh Mas Suryo.

Pokmen makasih banget buat mereka, saya yang isinan puool dan biasanya merasa bagai butiran debu jika dikelilingi musisi dari band yang saya gemari, kali ini bahkan bisa ngobrol dengan santai sama mereka, karena mereka memang welcome banget orang-orangnya. Ihiiik. You rock guuuuys \o/

CLOSING FESTIVAL MUSIK TEMBI 2014

Melebur Bersama dalam Irama Tradisi Budaya



Setelah dua hari sebelumnya berhasil memikat penonton dengan penampilan dari berbagai musisi dan para nominasi Musik Tradisi Baru, Sabtu lalu (24/05) Festival Musik Tembi 2014 pun menutup rangkaian acara mereka dengan istimewa.
Malam terakhir Festival Musik Tembi dibuka di pendhapa dengan pentas solo putri seniman pantomim kondang Jemek Supardi, Kinanti Sekar Rahina. Sekar yang juga merupakan seniwati terkenal pada bidangnya sukses membuat penonton tersentuh dengan penampilannya yang berjudul ‘Sri’ malam itu. Menyampaikan protes para petani akan tidak adanya keadilan bagi mereka, ‘Sri’ menimbulkan perasaan miris dan diharapkan juga menimbulkan kesadaran terkait hal tadi pada para penontonnya.
Setelah itu ada Trio Krisna yang mewakili Etawa Jazz Club pada Festival Musik Tembi malam itu juga mendapat perhatian para penikmat musik jazz di antara penonton. Trio Krisna membawakan beberapa nomor lagu yang ringan namun tetap kental unsur jazz-nya.
Berpindah ke dalam museum, penonton dibawa hanyut oleh penampilan duo folk asal Jogjakarta, Wangi Hujan. Wangi Hujan sendiri adalah project kolaborasi Erwin Zubiyan (gitaris Risky Summerbee & The Honeythief) dan Luise Najib yang merupakan jebolan ajang pencarian bakat The Voice. Membawakan lagu-lagu andalan mereka seperti Good Wrong, Wet, dan Pulang, Wangi Hujan menciptakan atmosfir campuran sendu dan ceria.
Penonton pun kembali diajak pindah ke amphiteater Rumah Budaya Tembi untuk menyaksikan penutupan Festival Musik Tembi 2014. Namun sayang, karena amphiteater penuh dan memang tempatnya terbatas karena akan digunakan oleh Sanggar Langlang Buana Banyuwangi untuk tampil, sebagian penonton hanya dapat melihat dengan layar proyektor. Tetapi hal itu tidak menyurutkan antusiasme penonton untuk tetap menikmati pentas tari dari Langlang Buana. Setelah penampilan mereka selesai, dilanjutkan dengan pemberian penghargaan Musik Tradisi Baru 2014.
Penghargaan diberikan kepada tujuh dari sembilan nominasi yang tampil pada Jumat lalu, yaitu Laring Project, Ocean Bridge, Daemiina, Sri Zamna, Kancaku, Vran, dan Nyanyian Senja.
Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya KunoKini pun bersiap di stage. KunoKini adalah grup musik beraliran etnik eksperimental yang menggunakan beragam alat musik tradisional dari berbagai daerah di Indonesia dan membawakan aransemen musik perpaduan musik tradisi dan modern.
Malam itu mereka membawakan Reinkarnasi, Lagu Jawa, Blue Yamko, Rasa Sayange, dan beberapa lagu lain sampai larut malam karena penonton begitu terbius oleh penampilan mereka dan enggan meninggalkan venue. Penonton diajak joget bersama oleh KunoKini, menambah rasa guyub di atara para penonton. Tak dapat disangkal, penampilan KunoKini malam itu benar-benar hebat dan memukau.
Menjelma kembali Indonesia, mungkin itulah salah satu hal yang menjadi tujuan diselenggarakannya Festival Musik Tembi. Dengan menyediakan kesempatan bagi para pemusik muda tanah air untuk berkarya dan mengekspresikan keunikan serta ciri khas masing-masing tanpa adanya pembatasan genre, Festival Musik Tembi adalah agenda yang patut dan wajib disaksikan tiap tahunnya.

(ditulis untuk website lama Magenta Radio)

Minggu, 25 Mei 2014

2 hari menjelajahi FMT 2014.

Sebagai mahasiswa sejati, mencari segala yang hratis tur tetep awesome telah menjelma paradigma dalam menjalani hidup yang keras ini (((uwopoooo))). Maka tentu saja ketika dihadapkan kepada beberapa pilihan yang cukup pelik dan dilematik, akhirnya saya menjadikan Festival Musik Tembi 2014 sebagai sarana refreshing dan menikmati weekend. Mengikhlaskan Sheila On 7, Payung Teduh, Festivalist, dan Sri Plecit. Tur rapopo, udah pernah nonton semua kecuali Payung Teduh dan udah beberapa kali juga, jadi ya cuman sedikit berat hati karena ngga bisa nonton Payung Teduh.




Tapiiiik, sedikit berat hati saya tuntas terbayarkan dengan sensasi menghadiri Festival Musik Tembi! Ini adalah kedua kali saya datang dan menonton FMT. Tahun lalu saya nonton FMT for the sake of clearing my head off national exam's chaos. Tahun ini... For the sake of the music itself aja lah yaa ;p Sayang sekali, sama seperti tahun lalu, kali ini saya hanya datang ke FMT selama dua hari. Melewatkan penampilan yang pasti sangat apik dari para performers hari pertama :( Woiyaaa saya ngga nonton Bad Cellists hikssss padahal tahun kemarin begitu terpesona sama mereka.

Jumat kemarin saya berangkat menuju Rumah Budaya Tembi untuk menonton penampilan dari para nominasi Musik Tradisi Baru 2014. FMT kali ini konsepnya tidak jauh beda dengan tahun lalu. Dibuka dengan Cri Animal yang membawakan lagu Golden Tropical Bamboo, perpaduan suling Bali dan gamelan digital. Cukup asik~ Setelah Cri Animal, Laring Project pun membawakan lagu Hitam Putih.


Cri Animal
Laring Project

Kemudian ada Nyanyian Senja yang membawakan lagu Mentog-Mentog yang telah diaransemen menjadi Mentog Berayun. Lagu ini mereka aransemen dengan menggunakan instrumen yang mereka sebut dengan 'Gamelan Swing Chamber'. Dengan lagu yang memang sudah familiar di kalangan masyarakat Jogja, Nyanyian Senja memberikan nuansa baru lewat pola jazz swing yang mereka gunakan dalam menggubah lagu tadi.

Nyanyian Senja
Brian Davidson

Dilanjutkan dengan Mutasi Suling oleh Brian Davidson, yang ternyata merupakan playback karena dia telah merekam musiknya di tempat lain (--,)

Setelah Brian, ada Daemiina!! Yak, Daemiina ini memang merupakan salah satu alasan saya memilih untuk menonton FMT. Saya mengenal Daemiina sejak beberapa waktu lalu mereka merekam cover dari Cello Song-nya Olafur Arnalds. Dan sejak nonton cover itu saya langsung naksir~

Malam itu mereka membawakan Rain, Forest, Sea and Its Son. Syahduuuu...

Barisan para mas ngganteng Daemiina
Ocean Bridge

Lalu ada Ocean Bridge yang begitu memabukkan dengan Mandala-nya. Personil Ocean Bridge ini ada yang dari Amerika dan Korea, membuat musik yang mereka hasilkan mempunyai atmosfir yang berbeda dan baru. Mantra Tri Sandhya umat Hindu juga dipadukan dalam musik mereka ini sehingga terasa kental sekali unsur budayanya.

Selanjutnya ada Kancaku yang membawakan Gelali. Gelali ini begitu nyaman di telinga dan dibawakan dengan penampilan yang menarik, apalagi di akhir lagu keluarlah putri dari pianis Kancaku yang imut banget lari-larian di stage mengejar cahaya. Oenjoehhhh :3

Kancaku
Sri Zamna

Ada juga Sri Zamna dengan Mantram Nusantara-nya yang terdengar dan terasa sakral karena lagu ini terinspirasi dari berbagai agama yang ada di Indonesia. Oya, salah satu anggota Sri Zamna ini ada yang mirip John Travolta waktu jadi Vincent Vega di Pulp Fiction masaaaa!! Huahahahaha, tapi apa cuman perasaanku aja ya ;p

Nominasi terakhir Musik Tradisi Budaya adalah Vran yang malam itu membawakan Ngabur Batavia. Menggunakan kostum khas Betawi, Vran mengundang tepuk tangan meriah dari para penonton di akhir acara. Berakhirlah hari kedua FMT malam itu.

Vran

Besoknyaaaa, saya nonton lagi dong. Hari terakhiiir... Dan pada hari inilah saya mengikhlaskan SO7. Bye bye mas Duta-Adam-Eross-Brian yang caem-caem. Kali ini saya menduakan kalian...

Mbak Sekar

Hari terakhir FMT dibuka dengan penampilan solo Mbak Kinanti Sekar Rahina, putri seniman pantomim kondang Jemek Supardi. Tarian Mbak Sekar ini berjudul 'Sri' yang menceritakan protes para petani terhadap ketidakadilan yang mereka hadapi. Marai merinding, sumpiiih! Apik banget pokoknya Mbak Sekar ini. Habis itu ada Trio Krisna yang mewakili Etawa Jazz Club, membawakan lagu-lagu jazz yang easy-listening.

Trio Krisna

Kemudian saya pindah ke museum untuk menyaksikan Wangi Hujan. Wangi Hujan ini sendiri beranggotakan Erwin Zubiyan (gitaris Risky Summerbee & The Honeythief) dan Luise Najib (jebolan The Voice). Musik yang mereka bawakan adalah folk yang dipadukan dengan sentuhan klasik dan pop, membuat lagu-lagu mereka sangat indah untuk didengarkan. Malam itu mereka membawakan Good Wrong, Wet, Pulang, dan beberapa lagu lain. Mereka juga mengajak para penonton ikut menyanyikan Rayuan Pulau Kelapa, yang tentu saja dengan versi mereka yang manis.
 

Fombi

Setelah itu saya berpindah lagi ke amphiteater untuk menonton performance dari Sanggar Langlang Buana Banyuwangi. Tapi ternyata amphiteater-nya penuh pemirsaaaa, jadi saya kebagian nonton di belakang bersama banyak penonton lain menggunakan layar proyektor. Ndak papa lah, biar terasa guyub~ Hwoiya, suasana FMT ini jadi bikin inget sama suasana Ngayogjazz, di mana para penonton dengan antusiasme tinggi tidak keberatan dengan permasalahan kecil yang sedikit mengganggu. Rak popoooo~~~

Langlang Buana menampilkan beberapa tarian yang begitu memukau. Wuaaaah keren, anak-anak kecil gitu narinya udah asoyyy kompak dan bagus banget. Tapi yang nari nggak cuma anak-anak pastinyaaa, ada juga mbak-mbak dan mas-mas yang tentu saja nggak kalah apiknya. Saya nggak sempet ambil foto soalnya ya tadi itu, cuman nonton dari proyektor hehehehe.

Selesai Langlang Buana, dilanjut dengan pemberian penghargaan pada para nominasi Musik Tradisi Baru yang tadi itu. Dari 9 penampil, dipilih 7 yaitu Nyanyian Senja, Laring Project, Ocean Bridge, Daemiina, Sri Zamna, Kancaku, dan Vran. Ihiiik selamat!

Naaaaah setelah lama menunggu dan malam semakin larut, kita tampilnyaaa... KunoKini!!!!

Twitter

KunoKini adalah Bhismo, Bebi, dan Akbar. Genre mereka sendiri adalah etnik eksperimental kalo nggak salah, pokoknya instrumen yang mereka mainkan adalah instrumen-instrumen tradisional dari berbagai wilayah di Indonesia. Kerennya anjiiiiiir!

Mereka ngebawain banyaaaak lagu untuk memuaskan para penonton, kayak Reinkarnasi, Lagu Jawa, Blue Yamko, Indo Baru, Rasa Sayange versi mereka, sampai lagu baru yang berjudul Maritim. Gila lah KunoKini kemaren, nagih! Penonton pada ikut joget pogo (nggak pogo-pogo banget jugak sik). Rame dan awesome bangeeeet.

Twitter
Fombi

Bener-bener deh... Sangar! Nggak nyesel dateng ke penutupan FMT kemaren. Nggak nyesel melewatkan SO7 dan Payung Teduh :")

Hwoiya, kemaren juga ketemu Mas Pepi (Layur)!! Jadi di museum saya emang udah liat dia, tapi ya ragu-ragu dikit iya bukan. Eeeh terus waktu di amphiteater dia duduk di depanku. Waktu pada joget sama KunoKini saya tanya deh tuh, "Mas Pepi Layur yaa?" dia awalnya bilang bukan sambil cengengesan dan bercanda gitu sih hahaha saya ajakin salaman deh trus ngobrol dikit.

Dia lucu banget deeeh wonge isinan tur adorable. Dimintain foto mauuu, diajak ngobrol juga ramah. Ihhh tambah cinta deh sama Layur :"> Maturnuwun yaaa maaas :D




Tahun depan harus ke FMT lagi siiiih :)

Jumat, 23 Mei 2014

Strolling down Melancholy Hill



My second mixtapeeeeeeeee ~~~\o/
Go download it here.

Kamis, 22 Mei 2014

cakap embun dan ilalang

weheartit.com

Kau dengar gemericik itu?
Tanya setetes embun pada ilalang
yang hatinya terbentang menanti matahari
Ilalang tersenyum mengangguk sembari
menyapa pagi

Sungai di bawah bukit,
embun mengernyit sedikit
Pulang?
Embun dan ilalang, pada batang yang sama mereka saling memandang
...mampu kah?
Hanya apabila kau simpan segala keluh kesah
Senyum embun merekah
Tatap teduh ilalang menebas gundah
Tak bisa kau ikut denganku?
Aku...

Sejenak detik membeku
Menjelma sunyi, menjadi candu
Semacam tatap yang selamanya menyimpan rindu

Selamat tinggal, kurasa?
Ya. Selamat tinggal.


Kelak akan kutitipkan doaku pada bisik angin yang menyapa permukaanmu...
Tetapi embun telah masap bersama hangat musim semi.

11.57 p.m
menanti kabut pagi.

Rabu, 21 Mei 2014

film

Potongan-potongan fragmen pada layar di kerumunan
Sedang aku di sudut saja dengan telinga ditulikan
Menatap layar yang kini bisu,
hanya adegan-adegan
hanya semesta kesunyian
hanya orang-orang berdesakan

Hanya...
Kenangan.

Sedang aku di sudut saja
Memamah segala apa yang
mereka suguhkan;
sinema petang dalam ironi terik siang.




Kelas movie-watching ini sungguh memusingkan.

Senin, 19 Mei 2014

COMMINFEST 2014 AWARDING NIGHT

Perpaduan Konsep Etnik dan Teatrikal yang Menghanyutkan

 
Berakhir sudah serangkaian acara Communication Interest Festival (Comminfest) 2014 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan meriah pada Sabtu lalu (17/5). Memilih tema ‘ethnic theatrical’, Awarding Night Comminfest 2014 sukses membuat para hadirin dan undangan terbawa dalam suasana riang dan nostalgia.
Dari segi ethnic, dengan dresscode batik yang sedikit banyak menambah rasa nasionalisme pada diri masing-masing hadirin dan suguhan jajanan pasar yang kini mulai jarang dikonsumsi generasi muda, Comminfest membawa satu misi penting ke depan panggung malam itu. Misi untuk kembali mengingatkan generasi muda masa depan Indonesia akan identitas negeri ini, negeri dengan budayanya yang begitu kaya dan beragam namun tetap satu dalam kebersamaan.
Sedang dari segi theatrical, para hadirin dihibur dengan penampilan dari Teater LILIN yang membawa atmosfer etnik, diiringi musik yang juga bernuansa etnik oleh grup musik Saka. Di sela-sela aksi panggung Teater LILIN yang kreatif dan kocak, disampaikan pemenang dari tiga kompetisi Comminfest.
The PRime dimenangkan oleh tim Glory PR (UAJY) sebagai juara I, Titanium (UI) sebagai juara II, dan Thunderation (Unpad) sebagai juara III. Kemudian dalam Feature Writing Competition Diah Harni keluar sebagai juara I, Tatang Guritno sebagai juara II, dan Josephine Krisna sebagai juara III. Kompetisi terakhir, yaitu Radio Announcer, dijuarai oleh Bernadeta Agustina sebagai juara I, Angelica Senggu sebagai juara II, dan Maria Alina sebagai juara III.


(ditulis untuk website lama Magenta Radio)

Senin, 12 Mei 2014

Mungkin akan menjadi hobi.

Mulai gemar mengoleksi...

Minggu, 11 Mei 2014

Kini berada di tangan kami.

#MakrabMagenta2014

Yak, selain kesalahan gramatikal yang ada pada satu kata dalam gambar tersebut, yaitu cause yang seharusnya ditulis 'cause (rewel amat), gambar di atas terasa begitu damai dan menimbulkan perasaan nyaman di dada, ya? Jadi bikin keinget sama Layur juga.

Dua hari ini saya lalui dengan bermacam-macam perasaan dalam hati. Like, seriously. Mengikuti serangkaian acara dalam rangka #MakrabMagenta2014 pada tanggal 10-11 Mei ini bener-bener bikin saya dapet banyak sekali pelajaran dan topik-topik personal maupun komunitas yang harus kembali saya kontemplasikan karena keterbatasan (yah lebih ke kebelumbisaan sih ya) saya pada aspek-aspek tertentu.

Sabtu kemaren saya sampai di Student Center UNY pukul 6 pagi kurang sedikit, dan ternyata yang dateng pun baru beberapa orang dan masih harus menunggu beberapa lama sebelum akhirnya kegiatan makrab dimulai.

Awalnya saya kira para CMC (Calon Magenta Crew) akan segera diberangkatkan menuju tempat makrab yang sesungguhnya, namun ternyata tidak, dan hal ini membuat saya merasa lebih excited dan penasaran dengan apa saja yang akan para CMC hadapi dalam #MakrabMagenta2014 ini. Jadi sebelum kelompok-kelompok berangkat, panita mengadakan sebuah game tebak lagu untuk mengundi kelompok mana yang akan berangkat duluan. Kelompok saya (Papua) berangkat pada urutan kesekian sehingga harus menunggu beberapa waktu. Oiya, uniknya #MakrabMagenta2014 yang lain adalah setiap kelompok makrab harus selfie pada tiap pos untuk kemudian mengunggahnya ke Twitter.


Saya, Intan, Mbak Lia, Maleo, dan Shandy

Kemudian kelompok saya pun berangkat setelah diberi secarik kertas berisikan petunjuk sebagai jalan agar kami bisa sampai ke tempat makrab. Oke, pada titik ini rasa excited saya semakin menggebu-gebu karena kelihatannya makrab ini ke depannya akan sangat menarik.




Kami segera menuju ke tempat yang dimaksud petunjuk tadi, yaitu Perpustakaan UNY di samping rektorat untuk mendapatkan petunjuk selanjutnya. Setelah mengikuti petunjuk selanjutnya, CMC berkumpul di dekat gerbang masuk rektorat untuk menunggu datangnya alat transportasi menuju tempat makrab. Kami berangkat ke tempat makrab menggunakan bus.

Lokasi #MakrabMagenta2014 berada di Jln. Damai, yang masih termasuk kawasan Jln. Kaliurang KM 8,5. Lalu mulailah kami menjalani serangkaian kegiatan makrab kali ini. Diawali dengan melakukan hal-hal yang konyol dan embuh pada pos-nya Mbak Yola dan Mbak Chalida, kelompok kami mendapat hukuman untuk melakukan twerking karena tidak mengetahui jawaban pertanyaan mereka. Okay fine kami twerking dengan nista -_-

Lalu berjalan lagi kelompok kami menuju lokasi pusat makrab untuk mengikuti pembukaan. Pembukaan dilakukan dengan cukup menarik juga, para CMC diperintah maju ke depan satu-satu  untuk memperkenalkan diri namun sekaligus bermain Truth or Dare. Saya maju dan mendapat dare untuk duet menyanyikan lagu "Jodohku" dengan salah satu crew Magenta. Dan saya pun menyanyi dengan Mas Nasik, yang gagal total huehuehue kemudian saya dicoret menggunakan bedak putih.




Setelah acara perkenalan dan pembukaan selesai, para CMC dipersilakan untuk ishoma dan istirahat sebelum melanjutkan ke agenda selanjutnya. Agenda selanjutnya adalaaaah... Kompetisi antar kelompok. Masing-masing kelompok dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah satu orang untuk lomba mencari koin menggunakan mulut, bagian kedua adalah satu orang untuk makan kerupuk, dan bagian ketiga adalah tiga orang untuk menangkap belut. Saya menjadi pencari koin.

Ternyata bagian saya adalah bagian yang what-the-hell banget (kayaknya semua juga sih hehe) karena omaigat saya sampai sesak karena harus ngegoler-golerin muka saya di atas tepung demi mencari lima buah koin. Fak lah kotor pakaian saya. Mana ngga sengaja nelen tepung pula -_- Oke kemudian Maleo pun mulai makan kerupuk setelah saya berhasil, lalu setelah Maleo berhasil, Intan, Mbak Lia, dan Shandy mulai berlomba banyak-banyakan menangkap belut dengan kelompok lain. Kami sukses mendapat 10 belut yang ternyata sesuai dugaan kami, harus kami masak. Masak-memasaklah kami dengan rempongnya... Entah sebenarnya kami memasak apa, tumis belut atau semacamnya, tapi ternyata hasil makanan kami cukup enak huehuehue :9

Sehabis menyelesaikan acara makan malam dengan masakan masing-masing, listrik tiba-tiba mati, dan hal ini berjalan cukup lama sampai agenda selanjutnya tetap dilaksanakan dalam remang-remang cahaya lilin. Nah, agenda kali ini adalah bincang-bincang bersama alumni Magenta Radio! :D

Oya lampu kemudian menyala saat bincang-bincang baru dimulai sehingga para CMC bisa lebih khidmat mendengarkan kisah para alumni Magenta Radio yang sangat awesome itu tentang sejarah Magenta dan cerita mereka saat masih aktif menjadi crew Magenta. Sesi ini membuat saya berpikir banyak tentang Magenta, tentang diri saya, dan bagaimana ke depannya saya akan melakukan proses belajar di dalam Magenta ini. Benar-benar sesi yang mencerahkan, menohok, menginspirasi, memotivasi, membangun, dan lain sebagainya. Walaupun para CMC sudah pada kriyip-kriyip karena hari bertambah malam dan tenaga hampir terkuras habis, tapi worth-it sekali pokoknya sesi bincang-bincang ini.

Agenda selanjutnya adalah pensi. Yak. Acara wajib dalam makrab ini ternyata tetap dilaksanakan walau hari benar-benar sudah larut. Hiks. Padahal saya berharap pensi ditiadakan T^T karena kelompok saya blasss belum latihan buat pensi ini. Kesibukan CMC dalam mempersiapkan satu acara Magenta yaitu Tour de Faculty menjadi faktor utama dalam ketidaksiapan kami akan pensi ini (alesan aja loooooo). Untungnya kami sudah membuat script drama untuk pentas. Majulah kelompok kami dengan ketar-ketir dan pasrah...

Dan ternyata sakses! Muahahahahaha. Yah, bisa dibilang sangat sakses untuk ukuran kelompok yang belom latihan sama sekali. Bener-bener dadakan dan berdasarkan pada kemampuan improvisasi tentu saja. Heheheheheheheh. Bahagiyaaaa~

Setelah acara pensi berlangsung, saya kira para CMC akan dipersilakan untuk tidur dan bangun lagi nanti untuk jurit malam atau ESQ atau apalah itu, tapi ternyata tidak pemirsaaaaah. Penonton kecewa -___- langsung dilanjut dengan sesi Kamar Gelap dan Aku Ingin oleh mas-yang-saya-lupa-namanya yang jujur saja membuat rasa kantuk saya menggila. Badan saya juga sudah pegal sekali karena seharian minim istirahat. Setelah selesai sesi tersebut (sukak sesi Aku Ingin, soalnya musikalisasi puisinya Pak Sapardi yang kondyang itu diputer!) ternyata masih menanti pula agenda selanjutnya. Pengukuhan, saya kira.

Saya beruntung sekali karena saya mendapat giliran paling pertama, bersama Muthia dan Erwin, untuk melakukan sesi ini. Pengukuhan ini sebenarnya cukup sederhana, saya hanya berbincang-bincang sedikit dengan Mas Sobeh (alumni Magenta) tentang uneg-uneg dan apa saja yang saya rasakan selama dua bulan menjadi CMC, kemudian ikrar dalam hati akan komitmen saya untuk Magenta, kemudian menemui Mas Hari (Dirut Magenta) untuk dikukuhkan dan diresmikan sebagai crew Magenta :)

Saya pun dipersilakan tidur, dan tentu saja kesempatan itu saya gunakan secara maksimal karena saya beruntung sekali bisa berada di kamar seawal itu.

Minggu paginya, outbound~~ Para CMC kembali dibentuk kelompok dan berbeda dari kelompok sebelumnya, supaya lebih akrab satu sama lain. Lagi-lagi kelompok saya mendapat giliran yang agak terakhir, tapi ndak papa deh. Mulailah kami menjalani satu persatu pos dalam sesi outbound tersebut... Asyik kok games-nya. Gayeng dan ndagel pokoknya, bikin seneng :D




Akhirnya berakhir sudah outbound hari iniiii... :'D

Mandi dan berkemas-kemaslah para crew baru Magenta (IYA UDAH CREW, KAN UDAH DILANTIIIIIK) untuk kembali pulang ke kotamu ada setangkup haru dalam rindu rumah ataupun kos masing-masing. Eeeetapi masih ada satu sesi terakhir ternyata, yang dipegang oleh Mas Dicki, Mas Sobeh, dan Mas Ajit (?) (saya lupaaaaak). Sesi terakhir ini adalah sesi nyinyir lewat kertas. Crew baru Magenta disuruh maju satu persatu untuk diajak sedikit berbincang kemudian crew baru Magenta lainnya menuliskan kesan yang mereka dapatkan tentang orang tersebut dalam secarik kertas yang nantinya akan dibagikan kembali kepada masing-masing crew baru Magenta. Yang paling saya inget dari sesi ini adalah saat Mas Dicki berteriak "Mantap maniaaa?!?" kemudian para crew baru Magenta berteriak bersama "MANCIIIING!!" huahahahahaha jan ndagel tenan.

Waktu saya maju, ada sedikit cerita lucu juga.

Mas Dicki (@dickimahardika yang femes itu loh, yang ternyata alumni Magenta): Kamuu mau tak panggil 'Faradienna', apa tak panggil 'sayang'?
Saya: ... #kemudianhening

Plis -___- Terus saya diajakin main dua kata juga sama mereka waktu di depan itu.

Mas Sobeh: Mantan itu
Mas-yang-saya-lupa-namanya-dikit (?): adalah anugerah
Saya: yang pahit
Mas Dicki: Kamu ngemut!?

Gubrak. Ngemut miatamuuuuuu maaaas hahaha asem konotasi ne parah coy. Ya tergantung otak receiver guyonnya juga sih sebenernya hahahahaha. Kalo gua mah jaoh ke sana nyampenya :p

Setelah penutupan dan berfoto bersama, pulanglah para crew Magenta... :D Ahhh, walaupun badan rasanya mrotholi dan ada beberapa kekecewaan sama beberapa bagian dari makrab ini, pelajaran dan pengalaman yang didapet dari #MakrabMagenta2014 jauuuuh lebih berharga sepertinya. Segala penat dan suntuk kuliah, persiapan Tour de Faculty yang bikin pusing, dan berbagai masalah lainnya sejenak terlupakan dan kami bisa menikmati makrab dengan bahagia.




Dengan berakhirnya #MakrabMagenta2014 hari ini, kami pulang dengan memikul kewajiban baru pada pundak kami. Kewajiban yang benar-benar harus sebisa mungkin kami jalankan dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran sekaligus keikhlasan yang begitu besar. Tetapi tentu saja hal ini tidaklah kemudian kami jadikan sebagai beban, karena melalui ini kami akan berproses dalam pengaktualisasian diri kami. Karena melalui ini pula kami akan dibentuk menjadi individu-individu baru yang lebih baik, lebih maju, lebih kompeten, dan siap menghadapi segala hal yang mungkin akan menghambat kami di masa depan. Magenta adalah proses belajar, dan tidak akan ada kerugian yang akan kami dapat dari suatu proses pembelajaran. Tidak akan ada. Saya yakin tentang hal itu.

Iya, masa depan Magenta Radio kini berada di tangan kami. Semoga kami (khususnya saya) dapat selalu menjaga keutuhan dan juga masa depan keluarga ini. Keluarga Magenta Radio. :D




Terima kasih saya ucapkan untuk keseluruhan panitia #MakrabMagenta2014 
beserta alumni yang telah mengorbankan waktu dan tenaga 
untuk mendedikasikan diri secara totalitas 
demi kesuksesan acara ini. 
Lokasi yang dipilih juga begitu wow, menyatu dengan alam, coy.
Mbak-mbak dan mas-mas keren banget pokoknya.
Thank you.

Kamis, 08 Mei 2014

Saya sedang berlari mengejar realita, sampai sesak dada, sampai tersandung, sampai tersungkur, tetapi mereka setia.



Kami, dua bisu pencipta ilusi yang menyuarakan senandung masa lalu dan kini. Dua bisu yang mampu meneriakkan derita relung jiwa, menyampaikan rasa yang bias oleh suara. Kami bisu, namun tak akan mati oleh waktu.

Senin, 05 Mei 2014

And then I spent the night requestioning cult.



Kemaren Sabtu (3/5) saya berangkat menuju Teater Garasi untuk turut menjadi saksi dalam satu skena musik Live at Teater Garasi: Requestioning Cult. Line-up malam itu adalah Whistler Post, Barefood, dan FSTVLST.

Saya menyambut acara ini dengan hati yang bergejolak, bahkan saya memesan tiket earlybirds karena takut kehabisan hohoho (biar murah juga sik sebenernya :B). Kenapa saya begitu antusias ingin menonton LATG kali ini? Alasan awal karena saya jatuh hati pada musik Barefood sejak pertama mendengar single mereka Perfect Colour. Saya kenal Barefood belum terlalu lama sebetulnya, mungkin sekitar 1-2 bulan lalu. Itupun sedikit banyak dikarenakan akhir-akhir ini saya mempunyai side-job (which is not that much of a side-job actually, biar keren aja gituk) untuk menyelami dunia permusikan indie tanah air sesering mungkin, memantau serta mencari single-single terbaru dari band indie Indonesia. Sumpah, nggak sekeren kedengerannya loh (--,)

Nah, sejauh yang saya ingat saya menemukan Barefood saat sedang melakukan side-job itu sepertinya. Dan langsung mabuk oleh atmosfir '90-an yang mereka bawakan dalam lagu-lagu mereka. Jarang-jarang sik saya nemu band indie dalam negri yang memberikan nuansa '90-an begini. Mencari tau lebih dalam lah saya tentang band ini, trus dapet link download EP terbaru mereka trus... Yagitudeh hihihi.

Requestioning Cult dimulai pukul 8 malam dengan MC Mas Risky Summerbee, dan dibuka oleh Whistler Post, asal Jakarta. Sedikit cerita, saya malah belum terlalu kenal band ini. Saya taunya juga karena mereka mau manggung sama Barefood. Riset dulu lah sebelum nonton mereka, dengerin lagu-lagunya dari Soundcloud mereka di sini. Eeeeh ternyata sukak! Karena musical style mereka yang katanya masuk shoegaze begitu enak di telinga. Cobalah! Kalian pasti juga jatuh cinta. Oiya, Mbak Tania, vokalis Whistler Post ini juga keyboardis Clover. Kalo Mas Andi 'Hans' (gitar) sih anggota Seaside, Pandai Besi, dll.


Whistler Post

Whistler Post membawakan total 9 lagu yang memang berasa shoegaze ya, walaupun nggak sepenuhnya beraliran shoegaze banget karena masih dapat dirasakan unsur indiepop-nya. Dan suara Mbak Tania yang manislah yang mengentalkan unsur indiepop pada lagu-lagu Whistler Post, membuat sensasi seperti psychedelic namun tidak mutlak psychedelic '70-an, melainkan yang lebih dreamy dan dinamis. Menurut saya juga malah berasa '90-an :D

This is For Something Cool, Better Days, The Other Side of Me, When The Night Comes, Closer, Like a Star, Till The End, Sebastian Says, dan Sing Me Loud sukses membuat saya jadi lebih kagum pada mereka. They're awesomeeee! Mbak Taniaaaaaaa <3

Setelah Whistler Post berhasil menghangatkan relung hati saya malam itu, Barefood bersiap-siap on stage. Barefood adalah Ditto Pradwito (gitar) dan Rachmad Triyadi (vokal, bass). 


Barefood dengan crowd-nya yang menggila

Barefood mengajak penonton (yang tadinya duduk) untuk berdiri dan jejingkrakan di depan stage. Tapi saya udah pewe di kursi jadi ya tetep duduk aja hehehehe. Mereka membawakan Breath, Teenage Day, Freak Scene, Sullen, Deep & Crush, dan beberapa lagu lain yang saya nggak tau judulnya dan nggak keep track juga karena suasana jadi panaaaas! Mas gitarisnya bahkan sempet crowdsurfing! Dan nggak cuman dia doang, beberapa penonton juga crowdsurfing sik. Sangaaaar :D

Selanjutnya, ada FESTIVALIST! Ini kali kedua saya nonton mereka. Yang pertama kali jaman SMA, waktu mereka konser di RRI bareng Thirteen, Sweet As Revenge, Attack The Headline, dll. Konser yang begitu panas (literally) dan pengap dan bau rokok merebak -_- tapi ya puas juga karena bisa nonton FSTVLST untuk yang pertama kali sejak nge-fan sama mereka (dan saya belom pernah nonton mereka waktu masih bernama Jenny).


FESTIVALIST (formerly Jenny)

Saya mulai suka musik mereka ya jaman SMA itu tadi, karena lirik dari lagu-lagu mereka yang... Apa ya? Revolusioner? Radikal? Wah saya kayaknya belum pantas juga sih buat ngomentarin lirik-lirik mereka, yang setidaknya, menurut saya begitu menggugah, relevan dengan kenyataan yang ada dan berjalan, serta  menyimpan banyak arti tersendiri. Tapiiii, sudah beberapa lama ini saya sedikit melupakan mereka dan nggak terlalu update dengan single-single mereka, jadi kemaren di LATG cuman melongo aja mantengin mereka tampil dengan kerennya, karena udah lupa lirik-liriknya :'|

Oke ndak papa, membuka dengan Tanah Indah Para Terabaikan, penonton dibawa hanyut oleh suara Mas Farid yang khas. Dilanjut dengan Bulan, Setan atau Malaikat, lalu Hujan Mata Pisau. Awalnya saya heran juga kok nggak ada penonton yang maju ke depan stage, karena waktu di RRI itu crowd FSTVLST banyak bangeeeet. Eeetapi waktu 120 dimainkan, barulah itu crowd di depan stage menggila. 

Setelah itu Menantang Rasi Bintang, terus lagu baru mereka yang baru pertama kali ditampilkan, Hal-Hal Ini Terjadi. Lagu ini begitu panjang, dan Mas Farid ngebacain sajak juga di tengah-tengahnya, tapi ciamik! Beruntung bisa nonton mereka live perform lagu baru itu :D 

"Sudah empat tahun saya memutuskan untuk berhenti menonton televisi, dan saya baik-baik saja." --Farid Stevy Asta

Terus dilanjutkan dengan single terbaru mereka yang sudah banyak diputar di radio, Orang-Orang di Kerumunan. Lalu Ayun Buai Zaman, Mati Muda, dan encore-nya Dance Song. Waktu lagu Ayun Buai Zaman, suasananya semakin panaaaaas, kolaborasi dadakan di atas panggung dengan Risky Summerbee, Yennu-nya Melancholic Bitch, dan yang lain-lain. Rame pokoknya! Dan pada lagu Mati Muda, yang nyanyi penontonnya. Sing-along bersama :)

Requestioning Cult kemaren adalah wow. Yep, "WOW". Keseluruhannya. Saya kutip pernyataan Mas Risky Summerbee:

"Saya baru pertama menonton nonton Barefood dan ternyata wow. Band ini lahir dengan suasana yang seperti di bar. Sementara FSTVLST adalah pintu masuk utama ketika kita membahas cult. Di skena musik Yogya (yang berbeda dengan Jakarta), persinggungan mereka tidak hanya pada penonton setia, namun space based cult yang di Jakarta terepresentasi pada 'Parc' era 2000an."

Begitu bikin nagih dan eargasm. Apalagi dikelilingi musisi-musisi skena indie Jogja (kebanyakan) dan tanah air setelah konser berakhir, duh, membuat saya merasa bagai butiran debu. Ketemu bassis Summer in Vienna, vokalis Bangkutaman, dll. dan saya hanya bisa ternganga hahahahah. Waktu mau pulang ketemu anggota Barefood dan Whistler Post pulaa. Aaaaah! Tapi ya tetep nggak ngapa-ngapain... Maklum, sebagai partisipan pasif yah saya bisa apa :')

Intinya sih malam itu...senang!

Dan seperti biasa, oleh-oleeeeh~
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates